<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Arsisiana Blogs</title>
	<atom:link href="http://arsisiana.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arsisiana.wordpress.com</link>
	<description>Arsip Tulisan-Tulisan Fadz di Kompasiana</description>
	<lastBuildDate>Wed, 11 Nov 2009 02:59:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='arsisiana.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/0dd69a2db1376689639d336a0ebfdf77?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Arsisiana Blogs</title>
		<link>http://arsisiana.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://arsisiana.wordpress.com/osd.xml" title="Arsisiana Blogs" />
		<item>
		<title>Chandra M. Hamzah, Nila Anfasa Moeloek, Williardi Wizard : 3 Orang Minang yang Bikin Geger Dunia Persilatan</title>
		<link>http://arsisiana.wordpress.com/2009/11/11/chandra-m-hamzah-nila-anfasa-moeloek-williardi-wizard-3-orang-minang-yang-bikin-geger-dunia-persilatan/</link>
		<comments>http://arsisiana.wordpress.com/2009/11/11/chandra-m-hamzah-nila-anfasa-moeloek-williardi-wizard-3-orang-minang-yang-bikin-geger-dunia-persilatan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 02:59:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebangsaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsisiana.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia terkejut! Bagai sebuah kilas balik ke zaman demokrasi parlementer diawal kemerdekaan, semasa Pak Hatta menjabat wapres, orang Minang kembali menjadi newsmaker.
Trimester ketiga tahun 2009 ini, 3 orang Minang sukses membuat geger media dan menjadi sumber gegap gempita pemberitaan.
Mungkin tidak ada keterkaitan personal antara ketiga orang ini namun dari sikap yang ditampilkan ke media terlihat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=69&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p style="text-align:justify;">Indonesia terkejut! Bagai sebuah kilas balik ke zaman demokrasi parlementer diawal kemerdekaan, semasa Pak Hatta menjabat wapres, orang Minang kembali menjadi newsmaker.<br />
Trimester ketiga tahun 2009 ini, 3 orang Minang sukses membuat geger media dan menjadi sumber gegap gempita pemberitaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin tidak ada keterkaitan personal antara ketiga orang ini namun dari sikap yang ditampilkan ke media terlihat adanya kesamaan yang sangat-sangat khas Minang. Suatu sikap dan <em>attitude </em>yang telah lama tersembunyi dalam khazanah keindonesiaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sikap idealis dan gigih mempertahankan prinsip, sikap pantang tunduk dan diatur atur dan sikap menjaga harga diri yang ditunjukkan ketiganya ternyata mengalami fenomena <em>rebranding</em>, sehingga laku dan layak jual dalam kehidupan Indonesia modern.<br />
Sikap yang mulai langka ini dan dimasa orde baru dulu dinisbatkan sebagai sikap pembawa sial dan penghalang kesuksesan, ternyata pada 11 tahun setelah reformasi justru menjadi sebuah genre yang dimuliakan dan meraih simpati publik.</p>
<p style="text-align:justify;">Lihat saja Nila Anfasa Moeleoek dengan sindiran tanpa ekspresi lewat pernyataan bahwa dia tidak meminta diundang ke Cikeas dan dia tidak meminta jabatan, secara tidak langsung telah menohok para calon mentri / mentri yang tidak layak sesungguhnya untuk diamanahi posisi yang diincarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang Nila yang tanpa ambisi telah menunjukkan harga diri dan kualitas dirinya. Walaupun akhirnya tetap saja tidak menjadi menteri namun kesan yang ditinggalkannya sangat dalam, walaupun ia muncul hanya sesaat.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin secara tersirat ibu yang satu ini ingin meninggalkan pesan &#8220;jangan main-main dengan perempuan Minang!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Lihat pula Chandra M. Hamzah. Runner-Up ketua KPK yang pada waktu pemilihan hanya berselisih tipis dengan Antasari Azhar, begitu sukses meraih simpati massa hanya karena sikap idealis dan gigih mempertahankan prinsip. Saya tidak akan mengulas panjang lebar karena cerita tentang dia telah sangat banyak bertebaran di media massa.</p>
<p style="text-align:justify;">
Terakhir Williardi Wizard. Dalam usia cukup muda ia sukses merintis karir di Kepolisian. Dengan jabatan sebagai kombes, putera Tiku ini ternyata tidak menemukan penghalang untuk membuatnya tetap membumi dengan komunitas asalnya di Padang. Ia bahkan terbiasa pulang kampung dan mencitrakan diri sebagai orang biasa, orang lapau yang egaliter.</p>
<p style="text-align:justify;">Tahun ini dia tersangkut kasus konspirasi besar. Tidak tanggung-tanggung, ia disangka merekrut orang untuk mengeksekusi Nasruddin Zulkarnain, seorang Bugis yang<br />
menjadi pejabat BUMN.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia didakwa terlibat dalam sebuah sandiwara rumit yang menjadikan seorang Bugis sebagai korban, seorang Jawa sebagai penyandang dana eksekusi, seorang Tionghoa sebagai penghubung  penyandang dana dengan perekrut eksekutor, seorang Minang sebagai perekrut eksekutor, beberapa orang Flores sebagai eksekutor, seorang Sunda sebagai wanita yang dianggap titik sentral sandiwara dan seorang Melayu-Bangka yang menjadi tokoh utama, aktor intelektual pembunuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Semula Williardi menepati perannya (mungkin dengan sejumlah tawaran dan konsekuensi), namun begitu menyadari bahwa ia hanya akan dijadikan tameng yang justru membuat para penjahat sebenarnya berada dalam posisi yang lebih menguntungkan, iapun berontak.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah kesaksian darinya menggegerkan ruang sidang. Getarannya menggemparkan Indonesia. Sebuah kesaksian persumpahan yang diawalinya dengan kalimat &#8221; Demi Allah, saya bersumpah&#8221; menggelindingkan bola api yang siap membakar siapa saja yang diterjangnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita tunggu saja, apa yang akan diperbuat 3 orang Minang ini pada hari-hari kedepan. Satu hal yang pasti, mereka telah menggegerkan dunia persilatan Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Lewat mereka saya melihat seolah-olah Tan Malaka, Rasuna Said dan Ahmad Hussein bangkit dan bereinkarnasi menggetarkan Indonesia.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsisiana.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsisiana.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsisiana.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsisiana.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsisiana.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsisiana.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsisiana.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsisiana.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsisiana.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsisiana.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=69&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsisiana.wordpress.com/2009/11/11/chandra-m-hamzah-nila-anfasa-moeloek-williardi-wizard-3-orang-minang-yang-bikin-geger-dunia-persilatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b09effb50970767a2f7924dd32296698?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fadli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebudayaan Hellenisme, dari Lembah Sungai Indus ke Minangkabau</title>
		<link>http://arsisiana.wordpress.com/2009/10/20/kebudayaan-hellenisme-dari-lembah-sungai-indus-ke-minangkabau/</link>
		<comments>http://arsisiana.wordpress.com/2009/10/20/kebudayaan-hellenisme-dari-lembah-sungai-indus-ke-minangkabau/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 07:35:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsisiana.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Misteri soal mitos orang Minangkabau sebagai keturunan dari Iskandar Zulkarnain (Alexander Agung dari Macedonia) tidak henti-hentinya menjadi bahan perdebatan sekaligus penelitian. Tidak ada bukti-bukti tertulis dan ranji silsilah yang dapat dijadikan rujukan. Reaksi dari para penerima cerita ini juga cenderung terbagi antar dua kutub ekstrim yaitu kutub sinisme yang nyata-nyata menolak dan antipati terhadap cerita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=44&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p style="text-align:justify;">Misteri soal mitos orang Minangkabau sebagai keturunan dari Iskandar Zulkarnain (Alexander Agung dari Macedonia) tidak henti-hentinya menjadi bahan perdebatan sekaligus penelitian. Tidak ada bukti-bukti tertulis dan ranji silsilah yang dapat dijadikan rujukan. Reaksi dari para penerima cerita ini juga cenderung terbagi antar dua kutub ekstrim yaitu kutub sinisme yang nyata-nyata menolak dan antipati terhadap cerita itu bahkan sedikitpun tidak mau mendengar, bahkan malu akan cerita yang mengada ada itu, dan kutub fanatisme yang menerima secara buta dan bangga sebagai sebuah ideologi turunan.</p>
<p style="text-align:justify;">Diluar itu semua saya menemukan di luar sana berserakan serpihan-serpihan yang tak terbantahkan memiliki kaitan dengan <strong>Kebudayaan Hellenisme</strong>, Sistem Matrilineal dan Sistem Pemerintahan Nagari yang betul-betul khas Yunani. Untuk menjawab semua itu, saya menenggelamkan diri dalam kutub ketiga yaitu kutub kritis dan peneliti. Saya akan mendengar semua sumber baik logis maupun mitos, saya akan memperluas cakupan kajian dengan tidak hanya terkurung dalam tempurung keminangkabauan. Saya memandang mitos tidak dengan cara benar atau salahnya mitos tersebut, namun dengan titik fokus kenapa mitos itu tercipta. Mitos menyimpan kunci-kunci nama tokoh, nama tempat, dan kejadian walaupun miskin informasi tarikh sejarah. Hasil budaya, sistem sosial, pranata sosial politik dan bahasa menyimpan ribuan kunci yang menarik untuk diteliti, tentu saja dengan syarat pertama tadi, yaitu : keluar dari tempurung keminangkabauan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam tulisan saya sebelumnya saya telah menyinggung soal <a href="http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/18/rahasia-suku-malayu-di-pariangan/" target="_blank">suku-suku pertama Minangkabau</a> yang menunjukkan asal daerah mereka dan ideologi agama yang menjadi latar belakang mereka. Saya juga sudah mengulas soal ke-identikan antara <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Greco-Buddhist_art" target="_blank">seni ukiran yang berkembang di Gandhara</a> dengan <a href="http://zulfikri.orgfree.com/ukiran01.html" target="_blank">motif ukiran Minangkabau</a> dalam tulisan <a href="http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/18/warisan-ukiran-dari-gandhara/" target="_blank"><strong>warisan ukiran dari Gandhara</strong></a>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Gandhara di Lembah Sungai Indus (600 SM)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gandhara merupakan tempat percampuran berbagai budaya dan agama setelah daerah di Lembah Sungai Indus bagian tengah ini ditaklukkan oleh Alexander Agung pada 327 SM. Budaya dan agama yang bercampur baur di Gandhara diantaranya adalah agama tradisional Yunani, Buddha, Hindu dan Zoroatrianisme.<span id="more-320"> </span></p>
<p style="text-align:justify;">Seluruh pengelana yang menempuh jalan darat dari timur Asia ke barat Eropa atau sebaliknya, pada masa itu, tidak punya pilihan selain melalui Gandhara (Afghanistan sekarang). Hanya lewat Jalur Sutra inilah perdagangan sutra Cina, pecah belah Alexandria, patung perunggu asal Roma, dan ukiran gading yang indah produksi India pada masa itu bisa terlaksana. Tak hanya pedagang, ribuan biksu Buddha juga ikut lalu lalang di Jalur Sutra. Mereka menemani kafilah-kafilah pembawa dagangan, sambil menyebarkan ajaran-ajaran Buddha sepanjang perjalanan. Sebuah versi sejarah menyatakan, dari wilayah Afghanistan inilah ajaran Buddha tersebar hingga ke Cina, Korea, Jepang, Tibet, Nepal, Bhutan, dan Mongolia.</p>
<p style="text-align:justify;">Keberadaan <a title="Stupa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Stupa">stupa</a> di kota Yunani <a title="Sirkap (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sirkap&amp;action=edit&amp;redlink=1">Sirkap</a>, yang dibangun oleh <a title="Demetrius I dari Baktria (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Demetrius_I_dari_Baktria&amp;action=edit&amp;redlink=1">Demetrius</a> sudah menunjukkan sebuah sinkretisme yang kuat atau perpaduan antara agama Yunani dan <a title="Buddha" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buddha">Buddha</a>, bersama dengan agama-agama lainnya seperti <a title="Hindu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hindu">Hindu</a> dan <a title="Zoroastrianisme" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Zoroastrianisme">Zoroastrianisme</a>. Gaya bangunan adalah Yunani, yang dihias dengan pilar-pilar kolom Korintus. Kemudian di <a title="Hadda (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hadda&amp;action=edit&amp;redlink=1">Hadda</a>, dewa Yunani <a title="Atlas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Atlas">Atlas</a> digambarkan menopang monumen Buddha yang dihias dengan pilar-pilar kolom Yunani.<span id="more-44"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/ancient_india.gif"><img title="Ancient_india" src="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/ancient_india.gif?w=508&amp;h=415&#038;h=415" alt="Ancient_india" width="508" height="415" /></a></p>
<p><strong>Gandhara Scrolls dan Motif Ukiran Minangkabau</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Gandhara scrolls adalah motif  hiasan gulungan khas Helenistik dengan ukiran dedaunan anggur dari <a title="Hadda (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hadda&amp;action=edit&amp;redlink=1">Hadda</a>, Pakistan utara. Motif ini berasal dari Yunani yang dibawa oleh pengikut dan tentara-tentara Alexander Agung pada saat penaklukan dunia timur. Pada tahun 326 SM, sebelum melakukan perjalanan kembali, Alexander <a href="http://venuskomputer.wordpress.com/2009/03/05/pengaruh-hellenisme-dalam-gaya-seni-arca-masa-klasik-tua-di-jawa-abad-ke-8%E2%80%9410-m/" target="_blank">memerintahkan bala tentaranya untuk mendirikan 12 kuil</a> yang sebagai ungkapan terima kasih kepada dewa-dewa Yunani, kuil-kuil itu dilengkapi dengan arca-arca dewa yang tentunya dibuat menurut gaya seni Hellas.</p>
<p style="text-align:center;">
<p><a href="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/gandharascrolls.gif"><img title="GandharaScrolls" src="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/gandharascrolls.gif?w=450&amp;h=150&#038;h=150" alt="GandharaScrolls" width="450" height="150" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:justify;"><em>Gandara Scrolls Motif (Gulungan Anggur dari Yunani)</em></p>
<p style="text-align:center;">
<p><a href="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/kambang-manih.gif"><img title="kambang manih" src="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/kambang-manih.gif?w=450&amp;h=150&#038;h=150" alt="kambang manih" width="450" height="150" /></a></p>
<p style="text-align:center;">
<p><em>Motif  Si Kambang Manih dalam Ukiran Minangkabau</em></p>
<p><strong>Kota Kota Model Yunani dan Sistem Konfederasi Nagari di Minangkabau</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Adalah suatu misteri sebelumnya ketika kita menemui bahwa di Minangkabau terdapat suatu sistem pemerintahan yang sangat asing untuk wilayah Nusantara. Kerajaan Minangkabau lebih merupakan konfederasi dari ratusan nagari, dan kedudukan raja sifatnya adalah simbol semata. Bahkan Lembaga Raja itu sendiri berbentuk suatu <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Triumvirate" target="_blank">Triumvirat</a> yang disebut <a href="http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/15/pemerintahan-rajo-nan-tigo-selo-di-pagaruyung/" target="_blank">Rajo Nan Tigo Selo</a> dengan anggota-anggota Rajo Alam, Rajo Adat dan Rajo Ibadat. <a href="http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/15/sistem-kelarasan-madzhab-ketatanegaraan-minangkabau/" target="_blank">Pemerintahan</a> sendiri dijalankan dengan bantuan dewan menteri yang disebut Basa Ampek Balai dengan anggota sejumlah 4 menteri dan sejumlah 7 lembaga negara yang disebut dengan <a href="http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/17/gajah-tongga-koto-piliang-dan-gajah-tunggal-lubuk-jambi/" target="_blank">Langgam Nan Tujuah</a> yang berkedudukan di 7 nagari penting. Dalam kerajaan juga berlaku 2 mazhab pemerintahan yang disebut kelarasan yaitu Sistem Kelarasan Koto Piliang yang aristoktratis dan Sistem Kelarasan Bodi Caniago yang demokratis. Belakangan muncul pula Sistem Kelarasan Lareh Nan Panjang yang menggabungkan kedua mazhab yang ada sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hellenistic_civilization" target="_blank">Kerajaan-kerajaan Hellenistic</a> yang berkembang disekitar lembah sungai Indus seperti <a href="http://id.wiki.detik.com/wiki/Kekaisaran_Seleukus" target="_blank">Seleucid Empire</a>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Greco-Bactrian_Kingdom" target="_blank">Bactria</a> dan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gandhara" target="_blank">Gandhara</a> mendirikan kota-kota menurut model Yunani, seperti di <a title="Ai-Khanoum (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ai-Khanoum&amp;action=edit&amp;redlink=1">Ai-Khanoum</a> di <a title="Baktria" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Baktria">Baktria</a>, yang hanya menunjukkan ciri-ciri khas arsitektural Hellenistic. Kota-kota ini juga diatur dengan sistem <a href="http://books.google.co.id/books?id=UkA3_brGfu4C&amp;pg=PA27&amp;lpg=PA27&amp;dq=sistem+pemerintahan+negara+kota+yunani&amp;source=bl&amp;ots=tvXT1leKm4&amp;sig=_IfM4ama0Awu9Dv4b3iQyrAKCnw&amp;hl=id&amp;ei=Z0bdSqOoKJT6kAXVpIUU&amp;sa=X&amp;oi=book_result&amp;ct=result&amp;resnum=2&amp;ved=0CAoQ6AEwAQ#v=onepage&amp;q=sistem%20pemerintahan%20negara%20kota%20yunani&amp;f=false" target="_blank">pemerintahan polis-polis</a> ala Yunani kuno. Sistem inilah yang dibawa oleh nenek moyang orang Minangkabau yang sangat mengagumi Alexander Agung itu. Belakangan mereka menciptakan mitos bahwa mereka itulah keturunan langsung dari Alexander Agung.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain di Minangkabau, sistem pemerintahan berbentuk <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Confederation" target="_blank">Konfederasi</a> ini juga di temukan di <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Champa" target="_blank">Kerajaan Champa</a>. Kerajaan Champa yang berdiri sepanjang abad ke 7 hingga tahun 1832 ini berbentuk Konfederasi Kota yang terdiri dari Indrapura, Amaravati, Vijaya, Kauthara dan Panduranga.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sistem Matrilineal dan Jejaknya di Jalur Perdagangan India-China</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Satu lagi kunci untuk mengungkap asal-usul dan diaspora nenek moyang orang Minangkabau adalah sistem kekerabatan Matrilineal yang dianut suku ini. Di sepanjang jalur perdagangan India-China sistem ini ditemukan di <a title="Kerala" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Kerala">Kerala</a>, <a title="Karnataka" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Karnataka">Karnataka</a>, dan <a title="Tamil Nadu" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tamil_Nadu">Tamil Nadu</a> di  <a title="India" href="http://en.wikipedia.org/wiki/India">India</a> , sebagaian wilayah Siam (Thailand), di <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Champa" target="_blank">Kerajaan Champa</a> di Vietnam sekarang dan di wilayah <a title="Naxi" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Naxi">Naxi</a> di <a title="China" href="http://en.wikipedia.org/wiki/China">China</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan dan Hipotesa</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dari data-data diatas terjawab sudah keheranan selama ini tentang mitos asal-usul orang Minangkabau. Klaim sebagai keturunan Iskandar Zulkarnain itu bisa dipahami sebagai bentuk kekaguman nenek moyang orang Minangkabau yang berasal dari Gandhara di Lembah Sungai Indus terhadap sosok Alexander Agung yang mendirikan peradaban Hellenistic, peradaban perpaduan timur dan barat yang meramu unsur-unsur Yunani, Buddha, Kebudayaan Hindu India dan Kebudayaan Persia serta Zoroatrianisme.</p>
<p style="text-align:justify;">Nenek moyang orang Minangkabau menurut <a href="http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/15/tambo-alam-minangkabau-dt-sangguno-dirajo/" target="_blank">Tambo Alam Minangkabau</a> bernama (bergelar) Sultan Maharajo Dirajo. Dari nama tersebut sangat jelas bahwa dia berasal dari India. Dalam Tambo daerah asal ini disebut Tanah Basa atau dalam bahasa asalnya adalah <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mahajanapada" target="_blank">Mahajanapada</a>. Dalam rombongan tersebut ikut anggota-anggota bernama Cateri Bilang Pandai (asal India) berkasta ksatria, Harimau Campa (asal <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Champa" target="_blank">Champa</a>), Kucing Siam (asal Siam), Kambing Hutan (asal Cambay, India) dan Anjing Mualim (asal Persia) sebagai navigator. Tiga daerah asal pengiring ini masih menganut sistem matrilineal hingga saat ini yaitu India (di Kerala, Karnataka dan Tamil Nadu), Siam/Thailand (pada beberapa daerah) dan Champa (Vietnam).</p>
<p style="text-align:justify;">Terakhir saya kutipkan sebagian isi Tambo pada <a href="http://mozaikminang.wordpress.com/2009/10/15/sutan-maharajo-dirajo-dan-mitos-puti-bidodari-dari-sarugo/" target="_blank">episode awal keberangkatan</a> (eksodus dari Tanah Basa):</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>adopun Sutan Sikandareni rajo alam nan arih bijaksano, mancaliak anak lah mulai gadang lah masak alemu jo pangaja, timbua niaik dalam hati nak manyuruah anak pai marantau mancari alimu jo pangalaman, mako tapikialah maso itu jo apo anak nak kadilapeh balayia dilauik basa, tabayanglah sabatang kayu gadang nan tumbuah dihulu Batang Masia banamo kayu Sajatalobi, daun rimbun rantiangnyo banyak batang panjang luruih pulo, tabik pangana andak manabangnyo kadibuek pincalang (parahu) tigo buah untuak palapeh anak marantau …</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">(adapun Iskandar Zulkarnain, raja yang arif bijaksana, melihat anak yang mulai dewasa, sudah sempurna ilmu pengetahuan, timbullah niat dalam hati untuk menyuruh anak pergi merantau, mencari ilmu dan pengalaman. Maka terpikirlah waktu itu tentang sarana yang akan digunakan anaknya untuk berlayar di samudera. Terbayanglah sebuah pohon kayu besar yang tumbuh di hulu sungai Batang Masia bernama pohon sajatalobi, daunnya rimbun dan rantingnya banyak, batangnya panjang dan lurus pula. Terpikirlah untuk menebang pohon tersebut, untuk dibuat perahu sebanyak 3 buah, untuk melepas anak pergi merantau …)</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah Sungai Batang Masia yang dimaksud dalam cerita itu adalah Sungai Indus? Wallahualam bis shawab.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://sosbud.kompasiana.com/2009/10/20/kebudayaan-hellenisme-dari-lembah-sungai-indus-ke-minangkabau/">http://sosbud.kompasiana.com/2009/10/20/kebudayaan-hellenisme-dari-lembah-sungai-indus-ke-minangkabau/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsisiana.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsisiana.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsisiana.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsisiana.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsisiana.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsisiana.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsisiana.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsisiana.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsisiana.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsisiana.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=44&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsisiana.wordpress.com/2009/10/20/kebudayaan-hellenisme-dari-lembah-sungai-indus-ke-minangkabau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b09effb50970767a2f7924dd32296698?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fadli</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/ancient_india.gif?w=508&#38;h=415&#38;h=415" medium="image">
			<media:title type="html">Ancient_india</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/gandharascrolls.gif?w=450&#38;h=150&#38;h=150" medium="image">
			<media:title type="html">GandharaScrolls</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mozaikminang.files.wordpress.com/2009/10/kambang-manih.gif?w=450&#38;h=150&#38;h=150" medium="image">
			<media:title type="html">kambang manih</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PKS, HTI, JT, Salafy dan FPI Lomba Lari, Siapa Pemenangnya?</title>
		<link>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/26/pks-hti-jt-salafy-dan-fpi-lomba-lari-siapa-pemenangnya/</link>
		<comments>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/26/pks-hti-jt-salafy-dan-fpi-lomba-lari-siapa-pemenangnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Sep 2009 08:38:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsisiana.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Pasca Reformasi 1998 berbagai macam aliran dan kelompok Islam mewarnai kehidupan kaum muslimin di Indonesia, terutama di kalangan muslim terpelajar yang berbasis di kampus-kampus, perkotaan dan kota-kota pelajar seperti Bandung dan Yogyakarta. Mereka sendiri menyebut kelompok-kelompok ini dengan istilah firqah, manhaj, tandzim, jamaah dan atau haraqah.
Diantara firqah-firqah yang cukup banyak pengikutnya di Indonesia itu adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=65&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p style="text-align:justify;">Pasca Reformasi 1998 berbagai macam aliran dan kelompok Islam mewarnai kehidupan kaum muslimin di Indonesia, terutama di kalangan muslim terpelajar yang berbasis di kampus-kampus, perkotaan dan kota-kota pelajar seperti Bandung dan Yogyakarta. Mereka sendiri menyebut kelompok-kelompok ini dengan istilah <em>firqah, manhaj, tandzim, jamaah </em>dan atau <em>haraqah</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Diantara firqah-firqah yang cukup banyak pengikutnya di Indonesia itu adalah Ikhwanul Muslimun (aka. Partai Keadilan Sejahtera), gerakan Salafy (dengan berbagai pecahaannya), Hizbut Tahrir Indonesia dan yang terakhir adalah Jamaah Tabligh. Saya sendiri pernah mengikuti keempat aliran tersebut sebelum akhirnya keluar dan lebih memilih kembali ke akar tradisional saya yaitu Muhammadiyah.<span id="more-65"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Firqah pertama yang saya kenal adalah Jamaah Tabligh. Pada saat itu saya masih SMA yaitu sekitar tahun 1999. Saya dikenalkan dengan ajaran ini oleh salah seorang guru SMA saya yang setiap pelajaran olahraga rutin mengkampanyekan dan mendakwahkan ajaran Jamaah Tabligh. Beliau mengambil simpati dengan membedakan perlakuan terhadap siswa-siswa yang terlambat mengikuti pelajaran olahraga. Lazimnya mata pelajaran olahraga dimulai sekitar jam 3 sore. Bagi siswa yang terlambat datang dengan alasan shalat ashar, guru tersebut justru memuji-muji dan tak segan mengakatakan pada siswa yang tepat waktu untuk menjadikan siswa yang terlambat karena shalat sebagai contoh. Selanjutnya beliau mulai mendakwahkan tentang indahnya <em>khuruj </em>(tabligh khuruj fii sabiilillah) yaitu salah satu amalan Jamaah Tabligh dan mengajak para siswa ikut dengannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mengenal PKS dan HTI pada waktu yang nyaris bersamaan pada saat saya kuliah di Yogyakarta. Saya terpesona dengan konsep jihad membela Palestina yang khas PKS dan konsep menolak demokrasi barat dan pro khilafah ala HTI. PKS sangat unik dengan gerakan kebudayaannya. Mulai dengan penggunaan kata-kata antum, anti, ukhti dan akhi dalam pergaulan. Penggunaan istilah-istilah seperti afwan dan ikhwan. Sampai kepada budaya nasyid dan liqa nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tahun 2004 saya berpaling kepada Salafi setelah sebuah insiden yang aneh. Teman salafi saya begitu jijiknya melihat saya sampai-sampai beliau tidak mau menjawab salam saya dan ogah untuk duduk berdekat dekatan dengan saya dengan alasan saya adalah seorang ahlul bid’ah. Sikap kerasnya tersebut yang membuat saya penasaran dan bertanya-tanya apakah memang benar saya sekotor itu di mata dia. Tidak kurang tokoh-tokoh panutan saya seperti Sayyid Qutb dan Hasan al Banna yang saya kenal di Jamaah Tarbiyah (PKS) habis dicela dan ditelanjanginya. Klaim bahwa Salafi adalah satu-satunya golongan yang selamat dari 73 golongan langsung saya telan mentah-mentah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiga bulan mengikuti Salafi saya hampir 180 derajat berubah. Saya sangat membenci PKS dan firqah-firqah yang lain. Ingin rasanya mencabuti dan merobek-robek bendera PKS atau HTI yang saya temui di lingkungan kampus. Bahkan jika ada dai Jamaah Tabligh yang coba-coba <em>khuruj</em> di masjid dekat kost-kostan saya, ingin rasanya membubarkan kegiatan mereka. Nuansa sejuk yang dulu saya peroleh dalam <em>liqa-liqa</em> Tarbiyah berganti dengan rasa gerah. Nyaris dalam setiap kajian isinya tidak lebih dari urusan cela mencela dan tahdzir mentahdzir. Bahkan saya nyaris tidak tahu siapa-siapa itu yang dicela dan ditahdzir.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Salafi saya mengenal tokoh-tokoh (ustadz-ustadz) di Indonesia dan di Timur Tengah sana yang ditahdzir (ummat diperingatkan untuk tidak mengikutinya). Saya tidak tahu siapa mereka-mereka itu, yang penting saya ikuti saja. Mereka sempat mengeluarkan daftar ustadz-ustadz yang mereka anggap kredibel sepanjang Aceh sampai Papua. Saya dengar-dengar ustadz-ustadz itu adalah murid-murid dari seorang ulama bernama Syaikh Muqbil di Yaman. Belakangan saya tahu ternyata nyaris sebagian besar tokoh-tokoh yang ditahdzir tersebut mengaku Salafi pula.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya mulai antipati dan alergi ketika kata-kata tercela seperti kecoak-kecoak dan anjing neraka muncul dalam forum kajian yang mulia. Saya mulai curiga kenapa teman salafi saya yang kajian di depan Fakultas MIPA dan yang kajian di Masjid Pogung mulai tidak bertegur sapa. Ada apa? Belakangan saya tahu bahwa mereka tidak sepemahaman. Teman saya yang di MIPA mengaku Salafi Asy Syariah dan menuduh yang di Pogung adalah antek-antek At Turats. Apalagi ini? Yang pasti saya tambah alergi.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhirnya dengan keikhlasan hati saya memutuskan untuk keluar saja dari firqah-firqah baru ini. Saya kembali saja ke akar tradisional saya yang damai. Saya pikir lebih baik saya meluangkan waktu saya untuk mengurusi Amal Usaha Muhammadiyah, bergerak di bidang pendidikan dan pemberdayaan ekonomi ummat. Terus terang saya juga tidak terlalu puas dengan kondisi Muhammadiyah sekarang yang gerakannya tidak sekinclong pada masa-masa awal berdirinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi biarlah, saya akan berdiri saja disini. Melihat PKS, HTI, JT, Salafy dan FPI berlomba lari. Saya penasaran, siapa nanti yang akan jadi pemenang. Kadang saya memimpikan suatu gerakan Islam modern yang tertata rapi seperti PKS, memiliki konsep canggih bagaikan HTI, tetap berlandaskan aqidah yang lurus laksana Salafi dengan tetap mengedepankan cara-cara yang santun seperti Jamaah Tabligh dan tidak hanya mengurusi agama seperti halnya Muhammadiyah serta tidak meninggalkan karakter ke Indonesiaannya selayaknya Nahdhatul Ulama.</p>
<p style="text-align:justify;">Kapankah itu bisa terwujud. Entahlah.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://umum.kompasiana.com/2009/09/26/pks-hti-jt-salafy-dan-fpi-lomba-lari-siapa-pemenangnya/">http://umum.kompasiana.com/2009/09/26/pks-hti-jt-salafy-dan-fpi-lomba-lari-siapa-pemenangnya/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsisiana.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsisiana.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsisiana.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsisiana.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsisiana.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsisiana.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsisiana.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsisiana.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsisiana.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsisiana.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=65&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/26/pks-hti-jt-salafy-dan-fpi-lomba-lari-siapa-pemenangnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b09effb50970767a2f7924dd32296698?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fadli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rekonsiliasi Indonesia, Belajar dari Uni Eropa</title>
		<link>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/24/rekonsiliasi-indonesia-belajar-dari-uni-eropa/</link>
		<comments>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/24/rekonsiliasi-indonesia-belajar-dari-uni-eropa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 08:37:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebangsaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsisiana.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Seperti yang telah saya duga, tulisan saya sebelumnya yang berjudul Mitos Mitos Sesat Majapahit, pasti akan menuai pro dan kontra. Pada kesempatan ini saya mau jujur, salah satu alasan saya menulis postingan tersebut adalah sebagai test case sebelum saya menulis postingan ini. Saya merasa perlu melakukan sebuah uji coba kecil sebelum memutuskan perlu tidaknya saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=63&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p style="text-align:justify;">Seperti yang telah saya duga, tulisan saya sebelumnya yang berjudul <a title="Andaipun sebagian cerita di dalam kitab ini benar adanya, maka tidak serta merta Nusantara berada dalam genggaman Majapahit selama 185 tahun. Yang benar adalah hanya selama 39 tahun saja!" href="http://public.kompasiana.com/2009/09/23/mitos-mitos-sesat-majapahit/" target="_blank">Mitos Mitos Sesat Majapahit</a>, pasti akan menuai pro dan kontra. Pada kesempatan ini saya mau jujur, salah satu alasan saya menulis postingan tersebut adalah sebagai test case sebelum saya menulis postingan ini. Saya merasa perlu melakukan sebuah uji coba kecil sebelum memutuskan perlu tidaknya saya menulis tulisan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Kenapa kita butuh Rekonsiliasi (Sosial)? Sebelum membahasnya saya akan kutipkan <strong><em>beberapa komentar dari tulisan saya sebelumnya</em></strong> :<span id="more-63"></span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><img src="http://www.gravatar.com/avatar/f78adb1e08775da9e9c1c0b8aa111938?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32" /> <strong>Tenny Nahsari</strong>,
<dt>— 23 September 2009 jam 1:00 pm </dt>
<dd>1. Tatar Sunda ga pernah takluk ke tangan Majapahit, wlaupun sempat terjadi insiden Perang Bubat<br />
2. Tidak berapa lama setelah Adityawarman mendirikan Kerajaan Pagaruyung(yang merupakan kelanjutan kerajaan Dharmasraya/Melayu Jambi). Putranya Ananngawarman memimpin Melayu(bukan cuman Minang saja yg terlibat perang tapi sumatera keseluruhan) mengalahkan Majapahit di Padang Sibusuk. </dd>
</li>
<li><img src="http://www.gravatar.com/avatar/af91e223b8d91d7e5be4f329ed2e1df1?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32" /> <strong>ajus</strong>,
<dt>— 23 September 2009 jam 7:45 pm </dt>
<dd>mau tanya aja sama penulis…mengenai tujuan tulisannya<br />
jika memang fakta sejarah nanti nya membuktikan bahwa Majapahit tidak menaklukan seluruh wilayah nusantara terus menurut anda apa yang harus kita lakukan?<br />
bukannya baik2 saja klaim bahwa Majapahit pernah mempersatukan nusantara dan menjadi inspirasi berdirinya NKRI…<br />
Klaim bahwa kita yang ada di nusantara ini pernah bersatu sebelumnya (sebelum 17 Agustus 1945). Bukannya itu hal yang baik?<br />
<em><strong>Tahu sejarah yang sebenarnya mungkin baik… tetapi kalau pada akhirnya membuat ‘repot dan sakit hati’ ngapain harus dibuka</strong></em> ….<br />
saya takut ini menyulut perpecahan untuk NKRI….<br />
negara eropa bergabung mendirikan EU. mereka berusaha mencari persamaan….. lha kita ini kok senang cari masalah untuk perpecahan…<br />
bingung aja……jadinya… </dd>
</li>
<li><img src="http://www.gravatar.com/avatar/b8d22d2238c084eeb5d02efabc69de21?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32" /> <strong>philip</strong>,
<dt>— 23 September 2009 jam 9:21 pm </dt>
<dd>Saya kira judul dan isi tulisan bung Fadz agak tendensius, <em><strong>saya menduga anda bukan orang Jawa, jadi agak enggan mengakui bahwa ada kerajaan jawa yang sangat besar dan luas pengaruhya seperti majapahit</strong></em>. Kalau kita baca tulisan para sejarawan indonesia semisal Prof.Dr. Slamet muljana, merekamengakui bahwa wilayah dan hegemoni majapahit memang amat luas, meliputi seluruh nusantara, kecuali Sunda. namun demikian, saya setuju kalau sumpah palapa bukanlah sumpah pemersatu, tapi sumpah penaklukkan, sumpah itu membalut ambisi besar gajah mada untuk mengangkangi seluruh nusantara. </dd>
</li>
<li><img src="http://www.gravatar.com/avatar/d0bed1285c5b2685fae2fb2cff93140d?s=32&amp;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&amp;r=G" alt="" width="32" height="32" /> <strong>merahjambu</strong>,
<dt>— 23 September 2009 jam 10:04 pm </dt>
<dd>Intinya mungkin jawanisasi emang gak beres (mengutip P.A.T loh), bukan masalah baik n ndak baik loh bung ajus, justru ini informasi yg perlu ditelaah lebih jauh shg orang endonesa jd lbh pinter.</dd>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Disadari atau tidak saya pikir kita perlu mengakui bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan kurang sehat pada diri kita sebagai bangsa Indonesia. Penyakit yang menyerupai kanker atau tumor kecil ini jika tidak kita obati dikawatirkan akan berkembang menjadi tumor ganas dan kanker kronis yang bisa membahayakan perjalanan bangsa kedepan. Riak-riak kecil dan indikasi minornya telah dapat kita saksikan pada pilpres lalu atau dalam skala yang lebih kecil bisa kita amati pada pilkada-pilkada di propinsi-propinsi multi etnik seperti Sumatera Utara, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.</p>
<p style="text-align:justify;">Penyakit apakah itu? Saya menyebutnya sebagai bisul-bisul sejarah masa lalu yang pada zaman reformasi ini teraktualisasi dalam bentuk egoisme etnik dan fanatisme kedaerahan. Selama ini kita memang terbiasa didogma untuk membicarakan soal SARA. Bahkan menyinggungnya sedikit saja kita sudah teramat khawatir akan menggoncang pondasi bangsa ini yang sejatinya juga tidak terlalu kokoh.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita kemudian menjadi orang-orang munafik yang lain di mulut lain di hati. Kita masih membahas apa yang dinamakan SARA itu. Kita kitik-kitik SARA yang seksi ini dalam ruang-ruang keluarga, pada lelucon-lelucon kelas warung, pada pembahasan tentang pernikahan, pada diskusi-diskusi underground di komunitas sesuku dan di forum-forum tertutup. Kita demikian takut untuk membicarakannya terang-terangan karena segan dituduh memecah belah persatuan dan membahayakan negara.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu sekonyong konyong ia muncul dalam bentuk pengharaman nama jalan Hayam Wuruk di Jawa Barat, ia muncul dalam bentuk konflik penduduk asli dan pendatang dari Jawa di tanah-tanah transmigrasi di Sumatera dan Sulawesi dan lebih tragis lagi ia muncul dalam spanduk-spanduk resmi kampanye pilpres. Lalu para orang munafik dengan jumawanya berkata, “lihatlah itu, orang yang tidak dewasa dalam berbangsa”  atau “lihatlah itu, provokator yang memecah belah bangsa”</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk sementara, tindakan-tindakan seperti itu berhasil menjadi <em>painkiller</em>. Ia sukses meredam rasa nyeri penyakit bisul sejarah ini namun tidak untuk mengobatinya. Ia tidak bisa mencegah bisul itu untuk meletus kapan saja situasi memungkinkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya para pendiri bangsa kita telah menemukan obatnya pada tahun 1928. Obat itu bernama <strong>Sumpah Pemuda</strong>. Obat dengan petunjuk pemakaian berbangsa satu, berbahasa satu dan bertumpah darah satu ini lahir dari rasa senasib sepenanggungan, kesetaraan dan cita-cita yang luhur dan mulia untuk menatap masa depan. Disini tersirat semangat untuk membangun bangsa ini dari sesuatu yang baru dan ideal tanpa harus mengkait-kaitkan diri dengan sejarah monarki masa lalu. Disini adalah kumpulan manusia-manusia baru walaupun mereka datang dari latar belakang agama dan etnik yang berbeda-beda. Mereka demikian elegan pada saat itu. Kalau saja Jong Java dan Pemuda Pasundan masih membicarakan soal Perang Bubat dimasa itu tentu tidak akan pernah kita dengar apa yang namanya Sumpah Pemuda itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun apa yang terjadi pada masa Soeharto. Kita diperkenalkan lagi dengan Sumpah Palapa yang dicetuskan lebih dari 7 abad yang lalu. Sebuah sumpah untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di Nusantara dalam hegemoni Majapahit. Nama Palapa tersebut malah disematkan pada satu-satunya Satelit Telekomunikasi resmi milik negara yang katanya ditujukan untuk mempersatukan bangsa. Kalau Soeharto seorang Indonesianis sejati yang menghargai kebhinnekaan dalam Pancasila yang disanjungnya itu, tentu alangkah lebih baik jika dia menamai satelit itu sebagai Satelit Sumpah Pemuda.</p>
<p style="text-align:justify;">OK, sekarang untuk apa kita perlu repot-repot mengungkit ungkit sejarah yang kadang terasa menyakitkan itu? Janganlah buru-buru berprasangka buruk bahwa itu semua akan memecah belah kita. Membuka sejarah adalah pintu menuju rekonsiliasi dan memaafkan apa-apa yang pernah terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kita dihadapkan pada kenyataan bahwa pada saat ini ada kecendrungan bangsa-bangsa untuk bersatu seperti Uni Eropa, Uni Afrika dan mungkin juga Uni Persia Raya (negara-negara Asia Tengah) dan cita-cita Khilafah, kita tidak harus malu dan takut. Justru dengan Rekonsiliasi kita akan lebih mudah untuk mencapai persatuan yang hakiki tersebut. Kita perlu membuka tabir-tabir kecurigaan dan prasangka untuk kemudian saling berislah dan menghidupkan lagi semangat Sumpah Pemuda. Kalau kita mau, bukan saja Indonesia yang tambah kokoh. Tidak tertutup kemungkinan jika suatu saat nanti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei dan Filipina Selatan akan bergabung menjadi suatu Uni Nusantara yang kokoh dan berpengaruh di dunia. Jika India bisa, kenapa kita tidak? Setidaknya saat ini kita telah mempunyai bahasa pemersatu yaitu Bahasa Indonesia. Bandingkan dengan India yang masih menganut 50 bahasa resmi disamping bahasa Inggris.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika Uni Eropa bisa kenapa kita tidak? Anda tentu tahu sejarah bangsa-bangsa di Eropa yang saling serang dan terlibat perang sesamanya selama ratusan tahun dan menelan puluhan juta korban jiwa. Kita tidak sampai separah itu. Sekarang dengan semangat rekonsiliasi dan cita-cita maju kedepan mereka bisa mewujudkan persatuan dalam kebhinnekaan itu setahap demi setahap. Jadi mengapa harus segan untuk Rekonsiliasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ayo Indonesia, kamu bisa!</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://umum.kompasiana.com/2009/09/24/rekonsiliasi-indonesia-belajar-dari-uni-eropa/">http://umum.kompasiana.com/2009/09/24/rekonsiliasi-indonesia-belajar-dari-uni-eropa/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsisiana.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsisiana.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsisiana.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsisiana.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsisiana.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsisiana.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsisiana.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsisiana.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsisiana.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsisiana.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=63&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/24/rekonsiliasi-indonesia-belajar-dari-uni-eropa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b09effb50970767a2f7924dd32296698?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fadli</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.gravatar.com/avatar/f78adb1e08775da9e9c1c0b8aa111938?s=32&#38;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&#38;r=G" medium="image" />

		<media:content url="http://www.gravatar.com/avatar/af91e223b8d91d7e5be4f329ed2e1df1?s=32&#38;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&#38;r=G" medium="image" />

		<media:content url="http://www.gravatar.com/avatar/b8d22d2238c084eeb5d02efabc69de21?s=32&#38;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&#38;r=G" medium="image" />

		<media:content url="http://www.gravatar.com/avatar/d0bed1285c5b2685fae2fb2cff93140d?s=32&#38;d=http%3A%2F%2Fwww.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D32&#38;r=G" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Mitos-mitos Sesat Majapahit</title>
		<link>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/23/mitos-mitos-sesat-majapahit/</link>
		<comments>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/23/mitos-mitos-sesat-majapahit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Sep 2009 08:34:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebangsaan]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsisiana.wordpress.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[  
Tahukah Anda bahwa umur Kerajaan Majapahit yang sangat terkenal itu ternyata hanya 185 tahun (1293-1478). Kerajaan Jawa yang didirikan oleh Raden Wijaya yang masih keturunan raja Kerajaan Sunda Galuh ini namanya begitu masyhur dalam buku-buku sejarah resmi yang kita pelajari dari SD hingga SMA. Apalagi ditambah penisbatan Majapahit sebagai sumber inspirasi berdirinya Republik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=60&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p style="text-align:justify;"><!-- end kepala artikel --> <!-- urutan berita --> <!-- isi artikel --></p>
<p style="text-align:justify;"><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c1/Majapahit_Empire_id.svg/781px-Majapahit_Empire_id.svg.png" alt="" width="656" height="384" />Tahukah Anda bahwa umur Kerajaan Majapahit yang sangat terkenal itu ternyata hanya <strong>185 tahun</strong> (1293-1478). Kerajaan Jawa yang didirikan oleh Raden Wijaya yang masih keturunan raja Kerajaan Sunda Galuh ini namanya begitu masyhur dalam buku-buku sejarah resmi yang kita pelajari dari SD hingga SMA. Apalagi ditambah penisbatan Majapahit sebagai sumber inspirasi berdirinya Republik Indonesia karena kerajaan inilah yang mula-mula “mempersatukan” (menaklukkan) pulau-pulau di seantero Nusantara dalam genggaman kekuasaannya.<span id="more-60"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kita seolah lupa bahwa di bumi Nusantara ini ternyata ada juga kerajaan-kerajaan yang tak kalah hebat, baik dari segi masa pemerintahannya maupun kekuatan militernya. Siapa sangka <strong>Kesultanan Aceh Darussalam</strong> itu memiliki umur <strong>396 tahun!</strong> (berdiri tahun 1507 dan takluk pada Belanda pada tahun 1903 akibat kalah perang). Sebagai catatan  Aceh akhirnya kalah setelah perang berlarut-larut yang memakan waktu 30 tahun (1873-1903) dan berkurangnya bantuan militer dari Kesultanan Ottoman.</p>
<p style="text-align:justify;">Diluar Kerajaan Aceh Darussalam yang digdaya itu ternyata masih ada lagi 2 buah kerajaan yang berumur panjang (dan tentunya lebih panjang daripada Majapahit yang terkenal itu). Kedua kerajaan ini masih berada di Sumatera. Sriwijaya adalah kerajaan yang lebih awal dari Majapahit yang sempat menancapkan bendera di bumi Nusantara ini setidaknya selama <strong>617 tahun</strong>. Sriwijaya telah ada sejak tahun 671 menurut kesaksian I-tsing, seorang pendeta Tiongkok yang mengunjungi kerajaan tersebut pada tahun itu. Kerajaan ini runtuh setelah Ekspedisi Pamalayu yang dilancarkan Kerajaan Singasari tahun 1288.</p>
<p style="text-align:justify;">Kerajaan kedua adalah Kerajaan Pagaruyung atau juga dikenal dengan nama Kerajaan Minangkabau. Kerajaan yang berlokasi di Sumatera Tengah ini sempat berumur <strong>477 tahun</strong>. Ia didirikan oleh Adityawarman pada tahun 1347 dan runtuh akibat Revolusi Sosial Wahabbi (Islam Mazhab Hambali) pada tahun 1824. Revolusi Wahabbi yang berniat mendirikan Daulah Islam Minangkabau ini akhirnya gagal dan berakhir dengan kisah Perang Paderi yang terkenal itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali kepada topik awal yaitu soal Majapahit, kita terlanjur mempercayai kebesaran kerajaan tersebut yang mana sumber datanya rata-rata berdasarkan klaim dalam kitab manifesto politik berjudul Negarakertagama. Kitab yang ditemukan pada abad ke 19 di dalam sebuah Puri di Lombok ini seolah melegitimasi fakta sejarah yang masih kabur tentang wilayah kekuasaan Majapahit.</p>
<p style="text-align:justify;">Andaipun sebagian cerita di dalam kitab ini benar adanya, maka tidak serta merta Nusantara berada dalam genggaman Majapahit selama 185 tahun. Yang benar adalah hanya selama <strong>39 tahun saja!</strong> Dasarnya adalah sebagian besar wilayah-wilayah tersebut ditaklukkan pada masa Raja Hayam Wuruk berkuasa (1350-1389) dengan bantuan Patih Gadjah Mada -nya yang terkenal itu. Sebagian besar wilayah pantai di pulau-pulau utama Nusantara memang sempat jatuh dalam hegemoni Majapahit dengan perkecualian wilayah Tatar Pasundan di Jawa Barat dan Pulau Madura. Setelah era Hayam Wuruk berakhir, satu persatu negara bawahan itu mulai melepaskan diri.</p>
<p style="text-align:justify;"><img src="http://2.bp.blogspot.com/_mtDqUGX4v0I/SolyU9tbwCI/AAAAAAAAAFI/cPkRcxJhPzc/s320/foto+ficer+monumen---eka+%281%29.JPG" alt="" width="320" height="240" /></p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi andai isi kitab ini benar tentu kiranya akan dengan mudah kita temukan jejak-jejak kekuasaan Majapahit di daerah-daerah taklukannya tersebut, sama seperti dengan mudahnya kita menemukan pengaruh India, Cina, Arab, Persia dan Eropa di negeri ini. Namun pada kenyataannya di wilayah Sulawesi Selatan dimana Kerajaan Gowa dan Kerajaan Luwu diklaim takluk tidak ditemukan sedikitpun jejak kerajaan yang berpusat di Tanah Jawa itu. Satu-satunya jejak kosakata mungkin kata kuda yang dalam bahasa Makassar adalah “jarang” (kemungkinan diambil dari kata jaran dalam bahasa Jawa). Selain itu nyaris tidak ada. Justru salah satu pamor keris di Jawa dinamakan pamor Luwu, dimana pada masa Majapahit, Kerajaan Luwu sangat terkenal dengan industri senjatanya yaitu keris itu sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi pertanyaannya manakah versi sejarah yang harus kita percaya. Saya rasa atas nama ilmu pengetahuan, perlu kiranya kita merevisi pemahaman kita selama ini dan perlu pula meneliti ulang cerita-cerita yang sempat dijadikan mitos sejarah dengan tujuan-tujuan tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Salam Kompasiana!</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://umum.kompasiana.com/2009/09/23/mitos-mitos-sesat-majapahit/">http://umum.kompasiana.com/2009/09/23/mitos-mitos-sesat-majapahit/</a></p>
<p style="text-align:justify;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsisiana.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsisiana.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsisiana.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsisiana.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsisiana.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsisiana.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsisiana.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsisiana.wordpress.com/60/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsisiana.wordpress.com/60/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsisiana.wordpress.com/60/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=60&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/23/mitos-mitos-sesat-majapahit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b09effb50970767a2f7924dd32296698?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fadli</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c1/Majapahit_Empire_id.svg/781px-Majapahit_Empire_id.svg.png" medium="image" />

		<media:content url="http://2.bp.blogspot.com/_mtDqUGX4v0I/SolyU9tbwCI/AAAAAAAAAFI/cPkRcxJhPzc/s320/foto+ficer+monumen---eka+%281%29.JPG" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Gusti Allah Ora Sare</title>
		<link>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/22/gusti-allah-ora-sare/</link>
		<comments>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/22/gusti-allah-ora-sare/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 08:33:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsisiana.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Tidak salah jika kita mengakui bahwa salah satu kodrat manusia adalah pelupa, karena untuk kasus Indonesia kita menemukan kehadiran sifat pelupa ini dalam kadar yang amat mencolok. Secara berseloroh teman saya pernah mengungkapkan, bahwa untuk merayakan sifat pelupa ini perlu juga kiranya diciptakan sebuah lagu dengan judul lupa-lupa ingat. Yah, terlalu sering kita lupa syairnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=58&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p style="text-align:justify;">Tidak salah jika kita mengakui bahwa salah satu kodrat manusia adalah pelupa, karena untuk kasus Indonesia kita menemukan kehadiran sifat pelupa ini dalam kadar yang amat mencolok. Secara berseloroh teman saya pernah mengungkapkan, bahwa untuk merayakan sifat pelupa ini perlu juga kiranya diciptakan sebuah lagu dengan judul lupa-lupa ingat. Yah, terlalu sering kita lupa syairnya dan hanya ingat kuncinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jauh didalam hati kita sadar bahwa kita lebih mudah mengingat kunci (melodi) ketimbang syair. Kita akan segera teringat kejadian yang sama ketika terjadi sebuah bencana seperti pesawat jatuh dan gempa bumi. Kita akan gampang tersadarkan ketika mendengar kasus korupsi plus konspirasi apalagi jika dibumbui pula dengan kisah bom bunuh diri. Namun sesaat kemudian kita akan lupa syairnya, kita akan lupa teks-nya, kita merasa tidak perlu peduli akan pengungkapan cerita dan apa-apa yang terselubung dalam setiap peristiwa itu.<span id="more-58"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Media …, yah media dalam kehidupan kita sedikit banyaknya berperan dalam lakon lupa-lupa ingat ini. Media dengan begitu agresif membombardir kita dengan berita-berita bombastis yang dijejalkan lewat headline-headline tebal. Mereka berlomba-lomba menayangkan awal suatu cerita lalu dengan sengaja meninggalkan para pembaca. Sebelum suatu kisah tuntas, mereka dengan segera mengobral berita baru untuk menenggalamkan kabar seru yang baru saja berumur seminggu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tertarik saya bertanya kepada para konsumen media. Tahukah Anda bagaimana kabar lakon cerita Antasari dan Tragedi KPK saat ini. Tidakkah jadi pertanyaan bagi anda-anda semua, kenapa kisah penembakan Noordin M Top tiba-tiba menjadi anti klimaks, sangat kontradiktif dengan kisah penembakan Ibrohim. Kenapa semua media baik cetak dan elektronik sepakat mengemasnya hanya dalam sebuah tagline sederhana? Apakabar kisah-kisah kecurangan pilpres? Cukupkah kisah-kisah tersebut dikubur dengan dalih orang yang masih membicarakannya cukup dicap sebagai sang penebar fitnah yang tidak legowo.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakabar Situ Gintung? Apakabar Prita Mulyasari? Apakabar ratusan kisah-kisah penganiayaan, salah tangkap dan salah tembak oleh polisi di berbagai pelosok negeri?</p>
<p style="text-align:justify;">Manusia Indonesia memang pelupa, mungkin akan terus begitu sepanjang masa. Tapi diatas itu semua, saya yakin bawah sadar kita masih merasa, bahwa Tuhan diatas sana tidak pernah lupa dan tidak pernah tidur. Dia Maha Mengetahui tentang lakon lupa yang terjadi dibawah sana, entah karena benar-benar lupa atau karena dipaksa untuk lupa dan melupakan dengan sengaja.</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat Idul Fitri 1430 H.</p>
<p style="text-align:justify;">Mari belajar memaafkan dan belajar untuk tidak melupakan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://umum.kompasiana.com/2009/09/22/gusti-allah-ora-sare/">http://umum.kompasiana.com/2009/09/22/gusti-allah-ora-sare/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsisiana.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsisiana.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsisiana.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsisiana.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsisiana.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsisiana.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsisiana.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsisiana.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsisiana.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsisiana.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=58&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/22/gusti-allah-ora-sare/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b09effb50970767a2f7924dd32296698?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fadli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Taaruf vs Take Me Out (Lelang Manusia di INDOSIAR)</title>
		<link>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/12/taaruf-vs-take-me-out-lelang-manusia-di-indosiar/</link>
		<comments>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/12/taaruf-vs-take-me-out-lelang-manusia-di-indosiar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Sep 2009 08:32:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebangsaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsisiana.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Luar Biasa Indonesia!
Anda tahu? Dalam dua tahun saja rakyat republik ini telah disuguhi dua cara baru untuk memilih pasangan hidup. Kedua cara ini berasal dari dua dunia yang berbeda untuk tidak mengatakan bertolak belakang.
Siapa tidak kenal Taaruf? Mazhab prosesi pencarian pasangan ala Timur Tengah ini mulai beken di Indonesia setidaknya di kalangan non ikhwah setelah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=55&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p style="text-align:justify;"><strong>Luar Biasa Indonesia!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Anda tahu? Dalam dua tahun saja rakyat republik ini telah disuguhi dua cara baru untuk memilih pasangan hidup. Kedua cara ini berasal dari dua dunia yang berbeda untuk tidak mengatakan bertolak belakang.</p>
<p style="text-align:justify;">Siapa tidak kenal Taaruf? Mazhab prosesi pencarian pasangan ala Timur Tengah ini mulai beken di Indonesia setidaknya di kalangan non ikhwah setelah film nasional Ayat Ayat Cinta meledak di pasaran. Orang boleh heran, bagaimana mungkin sang pria langsung menerima sang wanita jadi istrinya hanya dengan melihat wajahnya saja, ketika wajah yang tertutup cadar itu dibuka. Memang visualisasi di film AAC mungkin sedikit menyimpang dari tata cara Taaruf yang sebenarnya, namun justru metode seperti itulah yang melekat di benak kahalayak Indonesia. Tak urung setelah itu muncul juga sinetron dengan judul Taaruf di TPI dengan pemeran wanita ikut ikutan bercadar dan berjilbab lebar.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertengahan tahun ini muncul lagi gaya baru perjodohan yang serta merta popular di republik ini. Tak ayal lagi acara Lelang Manusia yang dibesut bernama “<a href="http://www.takemeoutindonesia.com/press.php?tid=10">Take Me Out Indonesia</a>” ini langsung menyita perhatian pemirsa.</p>
<p style="text-align:justify;">Peserta acara ini rata-rata adalah para wanita cukup usia (untuk tidak menyebutkan perawan tua). 30 wanita dihadirkan di podium laksana rombongan perempuan yang siap belanja laki-laki yang dipajang di etalase. Ada 7 pria tampan yang dilelang di acara tersebut, dan para wanita boleh tidak memilih jika tidak suka dengan cara mematikan lampu.</p>
<p style="text-align:justify;">Taaruf yang sebenarnya masih berlangsung sampai saat ini. Dari yang saya dengar biasanya proses ini dicomblangi oleh para ustadz atau ustadzah. Selain faktor fisik, faktor kesamaan cita-cita dan pandangan hidup juga ikut mempengaruhi keputusan peserta taaruf. Banyak juga pasangan ideal yang dihasilkan oleh proses ini. Saya pernah menemukan sepasang pasutri hasil taaruf dimana keduanya bekerja di Bank Mandiri dan Bank Indonesia dan lulus dari dua universitas negeri ternama Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah bagaimana dengan Take Me Out? Sebanyak yang saya ikuti faktor penampilan dan finansial lebih mempengaruhi keputusan para <em>super woman</em> peserta lelang. Mereka seperti mengharapkan pria yang sempurna tanpa melihat dulu kedalam diri mereka (faktor usia).</p>
<p style="text-align:justify;">Nah bagaimana tanggapan warga Kompasiana? Apapun itu, kedua mazhab ini telah mewarnai Indonesia dua tahun belakangan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat berakhir pekan. Salam Kompasiana!</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://umum.kompasiana.com/2009/09/12/taaruf-vs-take-me-out-lelang-manusia-di-indosiar/">http://umum.kompasiana.com/2009/09/12/taaruf-vs-take-me-out-lelang-manusia-di-indosiar/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsisiana.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsisiana.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsisiana.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsisiana.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsisiana.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsisiana.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsisiana.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsisiana.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsisiana.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsisiana.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=55&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/12/taaruf-vs-take-me-out-lelang-manusia-di-indosiar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b09effb50970767a2f7924dd32296698?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fadli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fitnah Itu Bertajuk “Hentikan Fitnah!”</title>
		<link>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/08/fitnah-itu-bertajuk-%e2%80%9chentikan-fitnah%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/08/fitnah-itu-bertajuk-%e2%80%9chentikan-fitnah%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 08:31:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsisiana.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Hentikan Fitnah!
Demikian bacaan tulisan berwarna merah menyolok itu dari jauh. Tulisan yang memajang potret presiden dan wakil presiden terpilih itu lumayan menyakitkan mata dan menebar suasana kebencian di saat bulan Ramadhan saat ini.
Lucunya tulisan tersebut nempel di tulisan spanduk ala Ramadhan yang dipublikasikan oleh Jaringan Nusantara, salah satu eks tim kampanye SBY-BOEDIONO. Lengkapnya spanduk ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=53&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p style="text-align:justify;"><strong>Hentikan Fitnah!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Demikian bacaan tulisan berwarna merah menyolok itu dari jauh. Tulisan yang memajang potret presiden dan wakil presiden terpilih itu lumayan menyakitkan mata dan menebar suasana kebencian di saat bulan Ramadhan saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Lucunya tulisan tersebut <em>nempel</em> di tulisan spanduk ala Ramadhan yang dipublikasikan oleh <strong>Jaringan Nusantara</strong>, salah satu eks tim kampanye SBY-BOEDIONO. Lengkapnya spanduk ini berbunyi “Marhaban ya Ramadhan” (warna hijau), HENTIKAN FITNAH (warna merah menyolok, huruf besar), Mari Berbuat Kebajikan (warna hijau), semuanya ditata di atas kain berwarna dasar putih, lengkap dengan foto pak beye dan pak budi dan tidak ketinggalan logo Jaringan Nusantara. Sekilas mengingatkan kita pada tipologi spanduk-spanduk ucapan selamat atas kemenangan sendiri yang dipublikasikan Majelis Dzikir SBY Nurussalam beberapa waktu setelah pemilu presiden lalu.<span id="more-53"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa yang salah dengan spanduk ini sehingga penulis sempat-sempatnya memposting tulisan yang membahas ini? Sebenarnya tidak ada kesalahan yang begitu berat, namun hati nurani penulis sedikit terusik ketika spanduk yang satu ini menurut perasaan penulis justru menebarkan suasana tidak tentram, tidak sejuk, tidak etis dan penuh kecurigaan kepada sesama anak bangsa. Alangkah sayangnya jika bulan yang mulia ini masih saja perlu dicemari oleh spanduk-spanduk politik yang berbaju selamat menunaikan ibadah puasa ini. Tulisan hentikan fitnah ini sangat menohok dan tendensius.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin ada yang berkomentar, “ahh, situ kali tukang fitnahnya, makanya tersinggung”. Namun yang penulis khawatirkan, bukankah dengan tersebar luasnya spanduk Jaringan Nusantara tersebut akan menimbulkan suasana tidak tentram di masyarakat. Wajar saja akan muncul rentetan pertanyaan sebagai reaksi atas spanduk tersebut, semisal “Hentikan Fitnah? Fitnah yang mana ya? Siapa ya yang di Fitnah? Siapa ya yang memfitnah? Isi fitnahnya apa ya? Ihh, kok tega-tenganya ya memfitnah di bulan Ramadhan? Siapa ya yang teraniaya oleh fitnah itu? Dan berbagai macam kemungkinan pertanyaan yang akan terlontar seiring berseminya kecurigaan di tengah-tengah sesama anak bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;">OK, cukup sudah pendapat saya. Intinya saya heran, bagaimana bisa wajah yang tampil di spanduk tersebut, yang terkenal dengan sikapnya yang super santun dan sangat menjaga etika ini bisa memerintahkan penyebaran spanduk yang sama sekali tidak santun tersebut. Saya hanya berdoa semoga saya tidak tsuudzon. Semoga memang bukan tokoh yang wajahnya terpampang di spanduk tersebut yang berada di belakang spanduk ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi yang menjalankannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetap pelihara suasana santun dan sejuk dalam kehidupan berbangsa.</p>
<p style="text-align:justify;">Hentikan Kecurigaan, Lanjutkan Perdamaian. Salam Kompasiana <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://umum.kompasiana.com/2009/09/08/fitnah-itu-bertajuk-hentikan-fitnah/">http://umum.kompasiana.com/2009/09/08/fitnah-itu-bertajuk-hentikan-fitnah/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsisiana.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsisiana.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsisiana.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsisiana.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsisiana.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsisiana.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsisiana.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsisiana.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsisiana.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsisiana.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=53&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/08/fitnah-itu-bertajuk-%e2%80%9chentikan-fitnah%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b09effb50970767a2f7924dd32296698?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fadli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Congkaknya Kedubes Australia</title>
		<link>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/05/congkaknya-kedubes-australia/</link>
		<comments>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/05/congkaknya-kedubes-australia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 08:29:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebangsaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsisiana.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Lupakan sejenak tentang kecongkakan Malaysia yang akhir-akhir ini hangat dibicarakan di pelbagai forum. Di sini, di negara kita ini, di ibukota Jakarta, Anda mungkin tidak menyangka bahwa pelecehan terhadap harga diri bangsa terjadi terang-terangan dan nyata-nyata di depan mata. Di tengah-tengah keramaian lalu lalang para pekerja, di depan Kedubes Australia, Kuningan, Jakarta.
Penulis yang bekerja disamping [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=51&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p style="text-align:justify;">Lupakan sejenak tentang kecongkakan Malaysia yang akhir-akhir ini hangat dibicarakan di pelbagai forum. Di sini, di negara kita ini, di ibukota Jakarta, Anda mungkin tidak menyangka bahwa pelecehan terhadap harga diri bangsa terjadi terang-terangan dan nyata-nyata di depan mata. Di tengah-tengah keramaian lalu lalang para pekerja, di depan Kedubes Australia, Kuningan, Jakarta.</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis yang bekerja disamping gedung kedubes yang angkuh ini merasakannya sendiri. Sejak semula penulis sudah merasa kurang sreg dengan tindak tanduk penguasa sejengkal tanah di Rasuna Said ini. Sejak kejadian Bom Kuningan 2004 lalu dan terlebih lagi setelah kejadian Bom Mega Kuningan baru-baru ini, petugas keamanan gedung angkuh ini semakin bertindak over acting.<span id="more-51"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin kita semua paham, bahwa memang kedutaan besar setiap negara merupakan tanah negara tersebut yang ditempelkan di negara tuan rumah, dan masukakal pula jika di dalam pagar kedutaan besar tersebut berlaku hukum-hukum si negara tamu.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun yang terjadi di depan Kedubes Australia malah sebaliknya. Pertama, di depan gedung angkuh mereka, mereka memblokade trotoar yang berada di wilayah Republik Indonesia, sehingga merampas hak-hak pejalan kaki yang mayoritas adalah rakyat Indonesia. Kedua, di depan trotoar yang telah di blokade tersebut mereka (lewat petugas keamanan) menempatkan sebuah mobil patroli yang hampir selalu standby 24 jam, sehingga sangat mengganggu pejalan kaki yang sudah tersingkir akibat trotoar di blokade. Akibatnya sering terjadi para pejalan kaki hampir terserempet kendaraan ketika melintasi bagian depan trotoar di sisi mobil patroli yang parkir tersebut. Ini jelas-jelas membahayakan keselamatan jiwa Rakyat Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketiga (ini bagian yang paling saya tidak suka), setiap hari Jumat mulai pagi, para pejalan kaki yang sudah tersingkir dari trotoar dan potensial terkena kecelakaan lalu lintas, harus diperiksa seluruh barang bawaannya, ketika melewati depan trotoar tadi, mungkin dengan asumsi semua pejalan kaki adalah teroris sehingga wajib membuktikan dirinya bukan teroris.</p>
<p style="text-align:justify;">Jumat kemarin saya mendapatkan perlakuan ini, namun saya menolak dengan tegas sambil membentak petugas keamanan mereka.”Anda petugas keamanan Kedubes Australia, wilayah kerja Anda di balik tembok sana, jangan atur-atur saya, saya berada di wilayah Republik Indonesia!” Salah satu dari mereka mencoba memegang bahu saya mencegah saya meronta. Kembali saya membentak, ” Jangan berlebihan deh!” Setelah itu saya berlalu tanpa mengacuhkan teriakan-teriakan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin ini kejadian ringan yang tidak penting, namun entah kenapa nasionalisme saya terusik oleh kejadian tidak penting ini. Bagaimana tanggapan pembaca??</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat berhari libur dan Salam Kompasiana! <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://umum.kompasiana.com/2009/09/05/congkaknya-kedubes-australia/">http://umum.kompasiana.com/2009/09/05/congkaknya-kedubes-australia/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsisiana.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsisiana.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsisiana.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsisiana.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsisiana.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsisiana.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsisiana.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsisiana.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsisiana.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsisiana.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=51&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsisiana.wordpress.com/2009/09/05/congkaknya-kedubes-australia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b09effb50970767a2f7924dd32296698?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fadli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pajak Anda Untuk Iklan Departemen</title>
		<link>http://arsisiana.wordpress.com/2009/07/04/pajak-anda-untuk-iklan-departemen/</link>
		<comments>http://arsisiana.wordpress.com/2009/07/04/pajak-anda-untuk-iklan-departemen/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jul 2009 08:29:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fadli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arsisiana.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah pertanyaan melintas di pikiran saya ketika menyaksikan iklan-iklan politik yang menyamar dalam rupa Iklan Layanan Masyarakat milik Departemen Koperasi dan UKM semakin gencar akhir-akhir ini. Apa manfaat dari iklan-iklan tersebut? Didalam iklan diceritakan sejarah koperasi sejak mulai dirintis oleh seorang patih di Purwokerto. SDA sang menteri koperasi berakting bak guru sejarah dalam iklan tersebut, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=49&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<br /><p style="text-align:justify;">Sebuah pertanyaan melintas di pikiran saya ketika menyaksikan iklan-iklan politik yang menyamar dalam rupa Iklan Layanan Masyarakat milik Departemen Koperasi dan UKM semakin gencar akhir-akhir ini. Apa manfaat dari iklan-iklan tersebut? Didalam iklan diceritakan sejarah koperasi sejak mulai dirintis oleh seorang patih di Purwokerto. SDA sang menteri koperasi berakting bak guru sejarah dalam iklan tersebut, lalu diselingi oleh komentar-komentar dan opini dari para mantan menteri koperasi yang sudah tidak menjabat lagi. Tapi pertanyaan fundamentalnya untuk apa iklan ini. Sudah sebandingkah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi dan menyiarkan iklan ini di televisi dengan manfaat yang akan diperoleh? Sudah sebandingkah manfaat yang diperoleh dari hasil penyiaran iklan koperasi ini dengan <strong>Pajak Penghasilan</strong> yang Anda-Anda semua bayarkan di saat gajian, setelah sebulan penuh bekerja keras membanting tulang. Sudah sebandingkah efek positif yang disebarkan iklan ini dengan keringat yang anda kucurkan setiap hari di jalan untuk mencari nafkah, yang sebagiannya Anda berikan kepada negara untuk membangun bangsa.<span id="more-49"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pajak Anda Untuk Membangun Bangsa</strong>, demikian tagline yang saya baca dari iklan Direktorat Jenderal Pajak. Dengan indah disana dikisahkan bahwa uang yang anda sisihkan untuk negara setiap bulan akan dikonversi untuk membangun bangsa. Membangun bangsa berarti membangun jiwa dan raganya, fisik dan mentalnya. Pembangunan fisik bisa berupa infrastruktur, jalan dan jembatan. Pembangunan mental diantaranya untuk fasilitas pendidikan dan kesehatan. Sama seperti halnya zakat yang anda bayarkan, hati akan lebih ikhlas dan sejuk melihat sebagian penghasilan dikonversi menjadi kebahagiaan orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun bagaimana dengan uang pajak yang digunakan untuk membiayai iklan-iklan departemen untuk kepentingan politik dan pencitraan? Adakah perasaaan ikhlas disana. Sekolah Gratis yang diiklankan dengan gencar dengan langgam telenovela pun ternyata hanya bohong belaka! Inikah yang dimaksud dengan membangun bangsa (secara mental)? Pernahkan Anda bayangkan ketika para orang tua murid yang mabuk harapan itu langsung kecewa dan terdiam di depan pintu gerbang sekolahan. Sekolah Gratis ternyata hanya telenovela di negeri impian, tidak sesuai dengan kenyataan. Apakah gratis berarti tetap bayar uang gedung dan ekstrakurikuler? Mental bangsa macam apa yang bisa dibangun dengan uang pajak jika ternyata pajak digunakan untuk membiayai iklan politik yang membohongi rakyat?</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali kepada iklan gencar milik Departemen Koperasi. Pernahkah anda bayangkan harga satu slot iklan berdurasi sekitar 1.5 menit ini di televisi. Perkiraan saya harganya berkisar di antara 50 juta sampai 150 juta rupiah, atau mungkin berbeda jika tayang di prime time. Pernahkah anda berandai-andai jika harga satu slot iklan tersebut digunakan untuk membangun bangsa secara fisik, dalam hal ini bayangkan jika harga satu slot iklan itu digunakan untuk membangun sebuah koperasi kecil di dusun terpencil. Atau bayangkan jika harga satu slot iklan itu dikonversi untuk mendirikan suatu balai latihan kerja sederhana di pinggiran kota. Tapi kenyataannya jauh dari khayalan Anda itu, uang pajak yang anda bayarkan ternyata hanya dikonversi menjadi 1.5 menit slot iklan yang berisi cuap-cuap para mantan menteri dan ujung-ujungnya hanya diakhiri dengan kata-kata <strong>Lanjutkan</strong>. Sungguh teramat menjijikkan!</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang perhatikan baik-baik televisi Anda. Dengarkan cermat-cermat radio Anda. Departemen-departemen itu sekarang sedang berlomba menghabiskan uang Anda, uang pajak yang Anda setorkan , untuk merebut piala Citra. Departemen Koperasi sekarang menjadi jawara, sementara Departemen Pendidikan Nasional membayangi di peringkat kedua dengan iklan sekolah gratis dan SMK. Menyusul Kementrian Perumahan Rakyat dan Kementrian Pemuda dan Olahraga.</p>
<p style="text-align:justify;">Masihkah Anda diam dan legawa?</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga menjadi bahan perenungan bagi Anda di akhir pekan ini. Salam Kompasiana!</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://umum.kompasiana.com/2009/07/04/pajak-anda-untuk-iklan-departemen/">http://umum.kompasiana.com/2009/07/04/pajak-anda-untuk-iklan-departemen/</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arsisiana.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arsisiana.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arsisiana.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arsisiana.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arsisiana.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arsisiana.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arsisiana.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arsisiana.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arsisiana.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arsisiana.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arsisiana.wordpress.com&blog=10020945&post=49&subd=arsisiana&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arsisiana.wordpress.com/2009/07/04/pajak-anda-untuk-iklan-departemen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b09effb50970767a2f7924dd32296698?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Fadli</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>