Fitnah Itu Bertajuk “Hentikan Fitnah!”
Hentikan Fitnah!
Demikian bacaan tulisan berwarna merah menyolok itu dari jauh. Tulisan yang memajang potret presiden dan wakil presiden terpilih itu lumayan menyakitkan mata dan menebar suasana kebencian di saat bulan Ramadhan saat ini.
Lucunya tulisan tersebut nempel di tulisan spanduk ala Ramadhan yang dipublikasikan oleh Jaringan Nusantara, salah satu eks tim kampanye SBY-BOEDIONO. Lengkapnya spanduk ini berbunyi “Marhaban ya Ramadhan” (warna hijau), HENTIKAN FITNAH (warna merah menyolok, huruf besar), Mari Berbuat Kebajikan (warna hijau), semuanya ditata di atas kain berwarna dasar putih, lengkap dengan foto pak beye dan pak budi dan tidak ketinggalan logo Jaringan Nusantara. Sekilas mengingatkan kita pada tipologi spanduk-spanduk ucapan selamat atas kemenangan sendiri yang dipublikasikan Majelis Dzikir SBY Nurussalam beberapa waktu setelah pemilu presiden lalu.
Lalu apa yang salah dengan spanduk ini sehingga penulis sempat-sempatnya memposting tulisan yang membahas ini? Sebenarnya tidak ada kesalahan yang begitu berat, namun hati nurani penulis sedikit terusik ketika spanduk yang satu ini menurut perasaan penulis justru menebarkan suasana tidak tentram, tidak sejuk, tidak etis dan penuh kecurigaan kepada sesama anak bangsa. Alangkah sayangnya jika bulan yang mulia ini masih saja perlu dicemari oleh spanduk-spanduk politik yang berbaju selamat menunaikan ibadah puasa ini. Tulisan hentikan fitnah ini sangat menohok dan tendensius.
Mungkin ada yang berkomentar, “ahh, situ kali tukang fitnahnya, makanya tersinggung”. Namun yang penulis khawatirkan, bukankah dengan tersebar luasnya spanduk Jaringan Nusantara tersebut akan menimbulkan suasana tidak tentram di masyarakat. Wajar saja akan muncul rentetan pertanyaan sebagai reaksi atas spanduk tersebut, semisal “Hentikan Fitnah? Fitnah yang mana ya? Siapa ya yang di Fitnah? Siapa ya yang memfitnah? Isi fitnahnya apa ya? Ihh, kok tega-tenganya ya memfitnah di bulan Ramadhan? Siapa ya yang teraniaya oleh fitnah itu? Dan berbagai macam kemungkinan pertanyaan yang akan terlontar seiring berseminya kecurigaan di tengah-tengah sesama anak bangsa.
OK, cukup sudah pendapat saya. Intinya saya heran, bagaimana bisa wajah yang tampil di spanduk tersebut, yang terkenal dengan sikapnya yang super santun dan sangat menjaga etika ini bisa memerintahkan penyebaran spanduk yang sama sekali tidak santun tersebut. Saya hanya berdoa semoga saya tidak tsuudzon. Semoga memang bukan tokoh yang wajahnya terpampang di spanduk tersebut yang berada di belakang spanduk ini.
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi yang menjalankannya.
Tetap pelihara suasana santun dan sejuk dalam kehidupan berbangsa.
Hentikan Kecurigaan, Lanjutkan Perdamaian. Salam Kompasiana
http://umum.kompasiana.com/2009/09/08/fitnah-itu-bertajuk-hentikan-fitnah/







Leave a Reply