Congkaknya Kedubes Australia
Lupakan sejenak tentang kecongkakan Malaysia yang akhir-akhir ini hangat dibicarakan di pelbagai forum. Di sini, di negara kita ini, di ibukota Jakarta, Anda mungkin tidak menyangka bahwa pelecehan terhadap harga diri bangsa terjadi terang-terangan dan nyata-nyata di depan mata. Di tengah-tengah keramaian lalu lalang para pekerja, di depan Kedubes Australia, Kuningan, Jakarta.
Penulis yang bekerja disamping gedung kedubes yang angkuh ini merasakannya sendiri. Sejak semula penulis sudah merasa kurang sreg dengan tindak tanduk penguasa sejengkal tanah di Rasuna Said ini. Sejak kejadian Bom Kuningan 2004 lalu dan terlebih lagi setelah kejadian Bom Mega Kuningan baru-baru ini, petugas keamanan gedung angkuh ini semakin bertindak over acting.
Mungkin kita semua paham, bahwa memang kedutaan besar setiap negara merupakan tanah negara tersebut yang ditempelkan di negara tuan rumah, dan masukakal pula jika di dalam pagar kedutaan besar tersebut berlaku hukum-hukum si negara tamu.
Namun yang terjadi di depan Kedubes Australia malah sebaliknya. Pertama, di depan gedung angkuh mereka, mereka memblokade trotoar yang berada di wilayah Republik Indonesia, sehingga merampas hak-hak pejalan kaki yang mayoritas adalah rakyat Indonesia. Kedua, di depan trotoar yang telah di blokade tersebut mereka (lewat petugas keamanan) menempatkan sebuah mobil patroli yang hampir selalu standby 24 jam, sehingga sangat mengganggu pejalan kaki yang sudah tersingkir akibat trotoar di blokade. Akibatnya sering terjadi para pejalan kaki hampir terserempet kendaraan ketika melintasi bagian depan trotoar di sisi mobil patroli yang parkir tersebut. Ini jelas-jelas membahayakan keselamatan jiwa Rakyat Indonesia.
Ketiga (ini bagian yang paling saya tidak suka), setiap hari Jumat mulai pagi, para pejalan kaki yang sudah tersingkir dari trotoar dan potensial terkena kecelakaan lalu lintas, harus diperiksa seluruh barang bawaannya, ketika melewati depan trotoar tadi, mungkin dengan asumsi semua pejalan kaki adalah teroris sehingga wajib membuktikan dirinya bukan teroris.
Jumat kemarin saya mendapatkan perlakuan ini, namun saya menolak dengan tegas sambil membentak petugas keamanan mereka.”Anda petugas keamanan Kedubes Australia, wilayah kerja Anda di balik tembok sana, jangan atur-atur saya, saya berada di wilayah Republik Indonesia!” Salah satu dari mereka mencoba memegang bahu saya mencegah saya meronta. Kembali saya membentak, ” Jangan berlebihan deh!” Setelah itu saya berlalu tanpa mengacuhkan teriakan-teriakan mereka.
Mungkin ini kejadian ringan yang tidak penting, namun entah kenapa nasionalisme saya terusik oleh kejadian tidak penting ini. Bagaimana tanggapan pembaca??
Selamat berhari libur dan Salam Kompasiana!
http://umum.kompasiana.com/2009/09/05/congkaknya-kedubes-australia/







Leave a Reply