Pajak Anda Untuk Iklan Departemen

Sebuah pertanyaan melintas di pikiran saya ketika menyaksikan iklan-iklan politik yang menyamar dalam rupa Iklan Layanan Masyarakat milik Departemen Koperasi dan UKM semakin gencar akhir-akhir ini. Apa manfaat dari iklan-iklan tersebut? Didalam iklan diceritakan sejarah koperasi sejak mulai dirintis oleh seorang patih di Purwokerto. SDA sang menteri koperasi berakting bak guru sejarah dalam iklan tersebut, lalu diselingi oleh komentar-komentar dan opini dari para mantan menteri koperasi yang sudah tidak menjabat lagi. Tapi pertanyaan fundamentalnya untuk apa iklan ini. Sudah sebandingkah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi dan menyiarkan iklan ini di televisi dengan manfaat yang akan diperoleh? Sudah sebandingkah manfaat yang diperoleh dari hasil penyiaran iklan koperasi ini dengan Pajak Penghasilan yang Anda-Anda semua bayarkan di saat gajian, setelah sebulan penuh bekerja keras membanting tulang. Sudah sebandingkah efek positif yang disebarkan iklan ini dengan keringat yang anda kucurkan setiap hari di jalan untuk mencari nafkah, yang sebagiannya Anda berikan kepada negara untuk membangun bangsa.

Pajak Anda Untuk Membangun Bangsa, demikian tagline yang saya baca dari iklan Direktorat Jenderal Pajak. Dengan indah disana dikisahkan bahwa uang yang anda sisihkan untuk negara setiap bulan akan dikonversi untuk membangun bangsa. Membangun bangsa berarti membangun jiwa dan raganya, fisik dan mentalnya. Pembangunan fisik bisa berupa infrastruktur, jalan dan jembatan. Pembangunan mental diantaranya untuk fasilitas pendidikan dan kesehatan. Sama seperti halnya zakat yang anda bayarkan, hati akan lebih ikhlas dan sejuk melihat sebagian penghasilan dikonversi menjadi kebahagiaan orang lain.

Namun bagaimana dengan uang pajak yang digunakan untuk membiayai iklan-iklan departemen untuk kepentingan politik dan pencitraan? Adakah perasaaan ikhlas disana. Sekolah Gratis yang diiklankan dengan gencar dengan langgam telenovela pun ternyata hanya bohong belaka! Inikah yang dimaksud dengan membangun bangsa (secara mental)? Pernahkan Anda bayangkan ketika para orang tua murid yang mabuk harapan itu langsung kecewa dan terdiam di depan pintu gerbang sekolahan. Sekolah Gratis ternyata hanya telenovela di negeri impian, tidak sesuai dengan kenyataan. Apakah gratis berarti tetap bayar uang gedung dan ekstrakurikuler? Mental bangsa macam apa yang bisa dibangun dengan uang pajak jika ternyata pajak digunakan untuk membiayai iklan politik yang membohongi rakyat?

Kembali kepada iklan gencar milik Departemen Koperasi. Pernahkah anda bayangkan harga satu slot iklan berdurasi sekitar 1.5 menit ini di televisi. Perkiraan saya harganya berkisar di antara 50 juta sampai 150 juta rupiah, atau mungkin berbeda jika tayang di prime time. Pernahkah anda berandai-andai jika harga satu slot iklan tersebut digunakan untuk membangun bangsa secara fisik, dalam hal ini bayangkan jika harga satu slot iklan itu digunakan untuk membangun sebuah koperasi kecil di dusun terpencil. Atau bayangkan jika harga satu slot iklan itu dikonversi untuk mendirikan suatu balai latihan kerja sederhana di pinggiran kota. Tapi kenyataannya jauh dari khayalan Anda itu, uang pajak yang anda bayarkan ternyata hanya dikonversi menjadi 1.5 menit slot iklan yang berisi cuap-cuap para mantan menteri dan ujung-ujungnya hanya diakhiri dengan kata-kata Lanjutkan. Sungguh teramat menjijikkan!

Sekarang perhatikan baik-baik televisi Anda. Dengarkan cermat-cermat radio Anda. Departemen-departemen itu sekarang sedang berlomba menghabiskan uang Anda, uang pajak yang Anda setorkan , untuk merebut piala Citra. Departemen Koperasi sekarang menjadi jawara, sementara Departemen Pendidikan Nasional membayangi di peringkat kedua dengan iklan sekolah gratis dan SMK. Menyusul Kementrian Perumahan Rakyat dan Kementrian Pemuda dan Olahraga.

Masihkah Anda diam dan legawa?

Semoga menjadi bahan perenungan bagi Anda di akhir pekan ini. Salam Kompasiana!

http://umum.kompasiana.com/2009/07/04/pajak-anda-untuk-iklan-departemen/

~ by Fadli on July 4, 2009.

Leave a Reply