Chandra M. Hamzah, Nila Anfasa Moeloek, Williardi Wizard : 3 Orang Minang yang Bikin Geger Dunia Persilatan

•November 11, 2009 • Leave a Comment

Indonesia terkejut! Bagai sebuah kilas balik ke zaman demokrasi parlementer diawal kemerdekaan, semasa Pak Hatta menjabat wapres, orang Minang kembali menjadi newsmaker.
Trimester ketiga tahun 2009 ini, 3 orang Minang sukses membuat geger media dan menjadi sumber gegap gempita pemberitaan.

Mungkin tidak ada keterkaitan personal antara ketiga orang ini namun dari sikap yang ditampilkan ke media terlihat adanya kesamaan yang sangat-sangat khas Minang. Suatu sikap dan attitude yang telah lama tersembunyi dalam khazanah keindonesiaan.

Sikap idealis dan gigih mempertahankan prinsip, sikap pantang tunduk dan diatur atur dan sikap menjaga harga diri yang ditunjukkan ketiganya ternyata mengalami fenomena rebranding, sehingga laku dan layak jual dalam kehidupan Indonesia modern.
Sikap yang mulai langka ini dan dimasa orde baru dulu dinisbatkan sebagai sikap pembawa sial dan penghalang kesuksesan, ternyata pada 11 tahun setelah reformasi justru menjadi sebuah genre yang dimuliakan dan meraih simpati publik.

Lihat saja Nila Anfasa Moeleoek dengan sindiran tanpa ekspresi lewat pernyataan bahwa dia tidak meminta diundang ke Cikeas dan dia tidak meminta jabatan, secara tidak langsung telah menohok para calon mentri / mentri yang tidak layak sesungguhnya untuk diamanahi posisi yang diincarnya.

Seorang Nila yang tanpa ambisi telah menunjukkan harga diri dan kualitas dirinya. Walaupun akhirnya tetap saja tidak menjadi menteri namun kesan yang ditinggalkannya sangat dalam, walaupun ia muncul hanya sesaat.

Mungkin secara tersirat ibu yang satu ini ingin meninggalkan pesan “jangan main-main dengan perempuan Minang!”

Lihat pula Chandra M. Hamzah. Runner-Up ketua KPK yang pada waktu pemilihan hanya berselisih tipis dengan Antasari Azhar, begitu sukses meraih simpati massa hanya karena sikap idealis dan gigih mempertahankan prinsip. Saya tidak akan mengulas panjang lebar karena cerita tentang dia telah sangat banyak bertebaran di media massa.

Terakhir Williardi Wizard. Dalam usia cukup muda ia sukses merintis karir di Kepolisian. Dengan jabatan sebagai kombes, putera Tiku ini ternyata tidak menemukan penghalang untuk membuatnya tetap membumi dengan komunitas asalnya di Padang. Ia bahkan terbiasa pulang kampung dan mencitrakan diri sebagai orang biasa, orang lapau yang egaliter.

Tahun ini dia tersangkut kasus konspirasi besar. Tidak tanggung-tanggung, ia disangka merekrut orang untuk mengeksekusi Nasruddin Zulkarnain, seorang Bugis yang
menjadi pejabat BUMN.

Ia didakwa terlibat dalam sebuah sandiwara rumit yang menjadikan seorang Bugis sebagai korban, seorang Jawa sebagai penyandang dana eksekusi, seorang Tionghoa sebagai penghubung  penyandang dana dengan perekrut eksekutor, seorang Minang sebagai perekrut eksekutor, beberapa orang Flores sebagai eksekutor, seorang Sunda sebagai wanita yang dianggap titik sentral sandiwara dan seorang Melayu-Bangka yang menjadi tokoh utama, aktor intelektual pembunuhan.

Semula Williardi menepati perannya (mungkin dengan sejumlah tawaran dan konsekuensi), namun begitu menyadari bahwa ia hanya akan dijadikan tameng yang justru membuat para penjahat sebenarnya berada dalam posisi yang lebih menguntungkan, iapun berontak.

Sebuah kesaksian darinya menggegerkan ruang sidang. Getarannya menggemparkan Indonesia. Sebuah kesaksian persumpahan yang diawalinya dengan kalimat ” Demi Allah, saya bersumpah” menggelindingkan bola api yang siap membakar siapa saja yang diterjangnya.

Kita tunggu saja, apa yang akan diperbuat 3 orang Minang ini pada hari-hari kedepan. Satu hal yang pasti, mereka telah menggegerkan dunia persilatan Indonesia.

Lewat mereka saya melihat seolah-olah Tan Malaka, Rasuna Said dan Ahmad Hussein bangkit dan bereinkarnasi menggetarkan Indonesia.

Kebudayaan Hellenisme, dari Lembah Sungai Indus ke Minangkabau

•October 20, 2009 • Leave a Comment

Misteri soal mitos orang Minangkabau sebagai keturunan dari Iskandar Zulkarnain (Alexander Agung dari Macedonia) tidak henti-hentinya menjadi bahan perdebatan sekaligus penelitian. Tidak ada bukti-bukti tertulis dan ranji silsilah yang dapat dijadikan rujukan. Reaksi dari para penerima cerita ini juga cenderung terbagi antar dua kutub ekstrim yaitu kutub sinisme yang nyata-nyata menolak dan antipati terhadap cerita itu bahkan sedikitpun tidak mau mendengar, bahkan malu akan cerita yang mengada ada itu, dan kutub fanatisme yang menerima secara buta dan bangga sebagai sebuah ideologi turunan.

Diluar itu semua saya menemukan di luar sana berserakan serpihan-serpihan yang tak terbantahkan memiliki kaitan dengan Kebudayaan Hellenisme, Sistem Matrilineal dan Sistem Pemerintahan Nagari yang betul-betul khas Yunani. Untuk menjawab semua itu, saya menenggelamkan diri dalam kutub ketiga yaitu kutub kritis dan peneliti. Saya akan mendengar semua sumber baik logis maupun mitos, saya akan memperluas cakupan kajian dengan tidak hanya terkurung dalam tempurung keminangkabauan. Saya memandang mitos tidak dengan cara benar atau salahnya mitos tersebut, namun dengan titik fokus kenapa mitos itu tercipta. Mitos menyimpan kunci-kunci nama tokoh, nama tempat, dan kejadian walaupun miskin informasi tarikh sejarah. Hasil budaya, sistem sosial, pranata sosial politik dan bahasa menyimpan ribuan kunci yang menarik untuk diteliti, tentu saja dengan syarat pertama tadi, yaitu : keluar dari tempurung keminangkabauan.

Dalam tulisan saya sebelumnya saya telah menyinggung soal suku-suku pertama Minangkabau yang menunjukkan asal daerah mereka dan ideologi agama yang menjadi latar belakang mereka. Saya juga sudah mengulas soal ke-identikan antara seni ukiran yang berkembang di Gandhara dengan motif ukiran Minangkabau dalam tulisan warisan ukiran dari Gandhara.

Gandhara di Lembah Sungai Indus (600 SM)

Gandhara merupakan tempat percampuran berbagai budaya dan agama setelah daerah di Lembah Sungai Indus bagian tengah ini ditaklukkan oleh Alexander Agung pada 327 SM. Budaya dan agama yang bercampur baur di Gandhara diantaranya adalah agama tradisional Yunani, Buddha, Hindu dan Zoroatrianisme.

Seluruh pengelana yang menempuh jalan darat dari timur Asia ke barat Eropa atau sebaliknya, pada masa itu, tidak punya pilihan selain melalui Gandhara (Afghanistan sekarang). Hanya lewat Jalur Sutra inilah perdagangan sutra Cina, pecah belah Alexandria, patung perunggu asal Roma, dan ukiran gading yang indah produksi India pada masa itu bisa terlaksana. Tak hanya pedagang, ribuan biksu Buddha juga ikut lalu lalang di Jalur Sutra. Mereka menemani kafilah-kafilah pembawa dagangan, sambil menyebarkan ajaran-ajaran Buddha sepanjang perjalanan. Sebuah versi sejarah menyatakan, dari wilayah Afghanistan inilah ajaran Buddha tersebar hingga ke Cina, Korea, Jepang, Tibet, Nepal, Bhutan, dan Mongolia.

Keberadaan stupa di kota Yunani Sirkap, yang dibangun oleh Demetrius sudah menunjukkan sebuah sinkretisme yang kuat atau perpaduan antara agama Yunani dan Buddha, bersama dengan agama-agama lainnya seperti Hindu dan Zoroastrianisme. Gaya bangunan adalah Yunani, yang dihias dengan pilar-pilar kolom Korintus. Kemudian di Hadda, dewa Yunani Atlas digambarkan menopang monumen Buddha yang dihias dengan pilar-pilar kolom Yunani. Continue reading ‘Kebudayaan Hellenisme, dari Lembah Sungai Indus ke Minangkabau’

PKS, HTI, JT, Salafy dan FPI Lomba Lari, Siapa Pemenangnya?

•September 26, 2009 • Leave a Comment

Pasca Reformasi 1998 berbagai macam aliran dan kelompok Islam mewarnai kehidupan kaum muslimin di Indonesia, terutama di kalangan muslim terpelajar yang berbasis di kampus-kampus, perkotaan dan kota-kota pelajar seperti Bandung dan Yogyakarta. Mereka sendiri menyebut kelompok-kelompok ini dengan istilah firqah, manhaj, tandzim, jamaah dan atau haraqah.

Diantara firqah-firqah yang cukup banyak pengikutnya di Indonesia itu adalah Ikhwanul Muslimun (aka. Partai Keadilan Sejahtera), gerakan Salafy (dengan berbagai pecahaannya), Hizbut Tahrir Indonesia dan yang terakhir adalah Jamaah Tabligh. Saya sendiri pernah mengikuti keempat aliran tersebut sebelum akhirnya keluar dan lebih memilih kembali ke akar tradisional saya yaitu Muhammadiyah. Continue reading ‘PKS, HTI, JT, Salafy dan FPI Lomba Lari, Siapa Pemenangnya?’

Rekonsiliasi Indonesia, Belajar dari Uni Eropa

•September 24, 2009 • Leave a Comment

Seperti yang telah saya duga, tulisan saya sebelumnya yang berjudul Mitos Mitos Sesat Majapahit, pasti akan menuai pro dan kontra. Pada kesempatan ini saya mau jujur, salah satu alasan saya menulis postingan tersebut adalah sebagai test case sebelum saya menulis postingan ini. Saya merasa perlu melakukan sebuah uji coba kecil sebelum memutuskan perlu tidaknya saya menulis tulisan ini.

Kenapa kita butuh Rekonsiliasi (Sosial)? Sebelum membahasnya saya akan kutipkan beberapa komentar dari tulisan saya sebelumnya : Continue reading ‘Rekonsiliasi Indonesia, Belajar dari Uni Eropa’

Mitos-mitos Sesat Majapahit

•September 23, 2009 • Leave a Comment

Tahukah Anda bahwa umur Kerajaan Majapahit yang sangat terkenal itu ternyata hanya 185 tahun (1293-1478). Kerajaan Jawa yang didirikan oleh Raden Wijaya yang masih keturunan raja Kerajaan Sunda Galuh ini namanya begitu masyhur dalam buku-buku sejarah resmi yang kita pelajari dari SD hingga SMA. Apalagi ditambah penisbatan Majapahit sebagai sumber inspirasi berdirinya Republik Indonesia karena kerajaan inilah yang mula-mula “mempersatukan” (menaklukkan) pulau-pulau di seantero Nusantara dalam genggaman kekuasaannya. Continue reading ‘Mitos-mitos Sesat Majapahit’

Gusti Allah Ora Sare

•September 22, 2009 • Leave a Comment

Tidak salah jika kita mengakui bahwa salah satu kodrat manusia adalah pelupa, karena untuk kasus Indonesia kita menemukan kehadiran sifat pelupa ini dalam kadar yang amat mencolok. Secara berseloroh teman saya pernah mengungkapkan, bahwa untuk merayakan sifat pelupa ini perlu juga kiranya diciptakan sebuah lagu dengan judul lupa-lupa ingat. Yah, terlalu sering kita lupa syairnya dan hanya ingat kuncinya.

Jauh didalam hati kita sadar bahwa kita lebih mudah mengingat kunci (melodi) ketimbang syair. Kita akan segera teringat kejadian yang sama ketika terjadi sebuah bencana seperti pesawat jatuh dan gempa bumi. Kita akan gampang tersadarkan ketika mendengar kasus korupsi plus konspirasi apalagi jika dibumbui pula dengan kisah bom bunuh diri. Namun sesaat kemudian kita akan lupa syairnya, kita akan lupa teks-nya, kita merasa tidak perlu peduli akan pengungkapan cerita dan apa-apa yang terselubung dalam setiap peristiwa itu. Continue reading ‘Gusti Allah Ora Sare’

Taaruf vs Take Me Out (Lelang Manusia di INDOSIAR)

•September 12, 2009 • Leave a Comment

Luar Biasa Indonesia!

Anda tahu? Dalam dua tahun saja rakyat republik ini telah disuguhi dua cara baru untuk memilih pasangan hidup. Kedua cara ini berasal dari dua dunia yang berbeda untuk tidak mengatakan bertolak belakang.

Siapa tidak kenal Taaruf? Mazhab prosesi pencarian pasangan ala Timur Tengah ini mulai beken di Indonesia setidaknya di kalangan non ikhwah setelah film nasional Ayat Ayat Cinta meledak di pasaran. Orang boleh heran, bagaimana mungkin sang pria langsung menerima sang wanita jadi istrinya hanya dengan melihat wajahnya saja, ketika wajah yang tertutup cadar itu dibuka. Memang visualisasi di film AAC mungkin sedikit menyimpang dari tata cara Taaruf yang sebenarnya, namun justru metode seperti itulah yang melekat di benak kahalayak Indonesia. Tak urung setelah itu muncul juga sinetron dengan judul Taaruf di TPI dengan pemeran wanita ikut ikutan bercadar dan berjilbab lebar.

Pertengahan tahun ini muncul lagi gaya baru perjodohan yang serta merta popular di republik ini. Tak ayal lagi acara Lelang Manusia yang dibesut bernama “Take Me Out Indonesia” ini langsung menyita perhatian pemirsa.

Peserta acara ini rata-rata adalah para wanita cukup usia (untuk tidak menyebutkan perawan tua). 30 wanita dihadirkan di podium laksana rombongan perempuan yang siap belanja laki-laki yang dipajang di etalase. Ada 7 pria tampan yang dilelang di acara tersebut, dan para wanita boleh tidak memilih jika tidak suka dengan cara mematikan lampu.

Taaruf yang sebenarnya masih berlangsung sampai saat ini. Dari yang saya dengar biasanya proses ini dicomblangi oleh para ustadz atau ustadzah. Selain faktor fisik, faktor kesamaan cita-cita dan pandangan hidup juga ikut mempengaruhi keputusan peserta taaruf. Banyak juga pasangan ideal yang dihasilkan oleh proses ini. Saya pernah menemukan sepasang pasutri hasil taaruf dimana keduanya bekerja di Bank Mandiri dan Bank Indonesia dan lulus dari dua universitas negeri ternama Indonesia.

Nah bagaimana dengan Take Me Out? Sebanyak yang saya ikuti faktor penampilan dan finansial lebih mempengaruhi keputusan para super woman peserta lelang. Mereka seperti mengharapkan pria yang sempurna tanpa melihat dulu kedalam diri mereka (faktor usia).

Nah bagaimana tanggapan warga Kompasiana? Apapun itu, kedua mazhab ini telah mewarnai Indonesia dua tahun belakangan ini.

Selamat berakhir pekan. Salam Kompasiana!

http://umum.kompasiana.com/2009/09/12/taaruf-vs-take-me-out-lelang-manusia-di-indosiar/

Fitnah Itu Bertajuk “Hentikan Fitnah!”

•September 8, 2009 • Leave a Comment

Hentikan Fitnah!

Demikian bacaan tulisan berwarna merah menyolok itu dari jauh. Tulisan yang memajang potret presiden dan wakil presiden terpilih itu lumayan menyakitkan mata dan menebar suasana kebencian di saat bulan Ramadhan saat ini.

Lucunya tulisan tersebut nempel di tulisan spanduk ala Ramadhan yang dipublikasikan oleh Jaringan Nusantara, salah satu eks tim kampanye SBY-BOEDIONO. Lengkapnya spanduk ini berbunyi “Marhaban ya Ramadhan” (warna hijau), HENTIKAN FITNAH (warna merah menyolok, huruf besar), Mari Berbuat Kebajikan (warna hijau), semuanya ditata di atas kain berwarna dasar putih, lengkap dengan foto pak beye dan pak budi dan tidak ketinggalan logo Jaringan Nusantara. Sekilas mengingatkan kita pada tipologi spanduk-spanduk ucapan selamat atas kemenangan sendiri yang dipublikasikan Majelis Dzikir SBY Nurussalam beberapa waktu setelah pemilu presiden lalu. Continue reading ‘Fitnah Itu Bertajuk “Hentikan Fitnah!”’

Congkaknya Kedubes Australia

•September 5, 2009 • Leave a Comment

Lupakan sejenak tentang kecongkakan Malaysia yang akhir-akhir ini hangat dibicarakan di pelbagai forum. Di sini, di negara kita ini, di ibukota Jakarta, Anda mungkin tidak menyangka bahwa pelecehan terhadap harga diri bangsa terjadi terang-terangan dan nyata-nyata di depan mata. Di tengah-tengah keramaian lalu lalang para pekerja, di depan Kedubes Australia, Kuningan, Jakarta.

Penulis yang bekerja disamping gedung kedubes yang angkuh ini merasakannya sendiri. Sejak semula penulis sudah merasa kurang sreg dengan tindak tanduk penguasa sejengkal tanah di Rasuna Said ini. Sejak kejadian Bom Kuningan 2004 lalu dan terlebih lagi setelah kejadian Bom Mega Kuningan baru-baru ini, petugas keamanan gedung angkuh ini semakin bertindak over acting. Continue reading ‘Congkaknya Kedubes Australia’

Pajak Anda Untuk Iklan Departemen

•July 4, 2009 • Leave a Comment

Sebuah pertanyaan melintas di pikiran saya ketika menyaksikan iklan-iklan politik yang menyamar dalam rupa Iklan Layanan Masyarakat milik Departemen Koperasi dan UKM semakin gencar akhir-akhir ini. Apa manfaat dari iklan-iklan tersebut? Didalam iklan diceritakan sejarah koperasi sejak mulai dirintis oleh seorang patih di Purwokerto. SDA sang menteri koperasi berakting bak guru sejarah dalam iklan tersebut, lalu diselingi oleh komentar-komentar dan opini dari para mantan menteri koperasi yang sudah tidak menjabat lagi. Tapi pertanyaan fundamentalnya untuk apa iklan ini. Sudah sebandingkah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi dan menyiarkan iklan ini di televisi dengan manfaat yang akan diperoleh? Sudah sebandingkah manfaat yang diperoleh dari hasil penyiaran iklan koperasi ini dengan Pajak Penghasilan yang Anda-Anda semua bayarkan di saat gajian, setelah sebulan penuh bekerja keras membanting tulang. Sudah sebandingkah efek positif yang disebarkan iklan ini dengan keringat yang anda kucurkan setiap hari di jalan untuk mencari nafkah, yang sebagiannya Anda berikan kepada negara untuk membangun bangsa. Continue reading ‘Pajak Anda Untuk Iklan Departemen’